Wednesday, May 6, 2015

Haruskah Orang #Kristen Menggunakan #Kekerasan untuk Membela Diri?

“Apa yang akan Anda lakukan jika penyusup menyerang Anda dan keluarga Anda? Akankah Anda menggunakan kekuatan mematikan untuk melindungi mereka?”
Siapa yang tahu pasti apa yang akan mereka lakukan, sehingga pada suatu tingkatan, itu adalah hipotesis yang tidak diketahui.
“Tapi bukankah kita harus membela diri dan orang lain dari para penyerang?”
Nah, Yesus diserang oleh massa rajam beberapa kali, tetapi secara supranatural Dia hanya menyelinap lewat di tengah-tengah mereka setiap kali tanpa pernah menyerang balik. Dia juga melakukan intervensi untuk menjaga orang lain tidak dilempari batu sampai mati oleh massa pembunuhan, tetapi tanpa melakukan kekerasan sendiri. Dia mengatakan orang-orang yang hidup dengan pedang akan mati oleh pedang, sehingga sulit untuk menggunakan-Nya sebagai model positif untuk menganjurkan kekerasan.
no violence

Tapi kita harus jujur ​​bahwa Yesus beroperasi dalam suatu pandangan supranatural dimana Dia mengandalkan malaikat dan bentuk perlindungan supranatural lainnya, apa yang saya suka sebut sebagai perlindungan Mazmur 91. Ini menjelaskan bagaimana Yesus secara supranatural menghindari bahaya tanpa pernah melakukan kekerasan-Nya sendiri. Dan Dia mengatakan kita akan melakukan hal yang sama dan pekerjaan lebih besar daripada yang telah dilakukan-Nya.
Masalahnya adalah bahwa hanya sedikit orang jaman ini yang memiliki pandangan dunia supranatural. Tanpa itu, kita membela diri atau mati — hanya ada dua pilihan. Tapi dengan kosmologi supranatural, kita bisa dapat dilindungi dari bahaya oleh orang lain melalui malaikat dan dinamika ilahi lainnya, tidak satupun membutuhkan kekerasan di pihak kita.
Perlindungan ilahi ditinggalkan sebagian besar tidak diperhitungkan dan tidak diklaim sebagai suatu “keuntungan yang terlupakan” dari “keselamatan yang begitu besar” milik kita.
Tapi, saya setuju bahwa jika seseorang tidak memiliki pandangan iman yang mengijinkan, mempercayakan diri dan menyetujui sumber-sumber daya supranatural, maka membela diri menjadi satu-satunya alternatif daripada mati.
Saya percaya saja bahwa ada pilihan ketiga. Tapi, saya siap mengakui sedikit orang yang percaya “dalam” atau “untuk” pilihan ketiga itu. Ketika jumlah itu BENAR-BENAR berubah dari “sedikit” menjadi “banyak,” Gereja akan masuk ke kemuliaan orbital!
Kuasa pelindung Allah, ketika dikatalisasi oleh iman, membentuk suatu perisai pelindung dan pemberi tenaga di sekitar kita. Perisai ini telah disebut “pagar Ayub” (Ayub 1:10), “tempat rahasia yang paling tinggi” (Mzm 91:1), dan “perlengkapan senjata Allah” (Efesus 6:13-17).
Yesus terus hidup dalam perisai pelindung ini karena Dia mempercayai Bapa-Nya untuk itu. Pelayanan Yesus tiga tahun itu sangat membahayakan-Nya. Pertimbangkanlah ini: orang-orang Yahudi religius berusaha untuk melemparkan Yesus dari tebing, “Tapi Dia berjalan lewat di tengah-tengah mereka, lalu pergi” (Luk 4:28-30); “berusaha untuk membinasakan Dia” (Luk 19:47); mereka berusaha untuk melempari Dia dengan batu, tetapi Dia meloloskan diri “melalui tengah-tengah mereka, dan lewat” (Yoh 8:59); “berusaha untuk membunuhnya” (Yoh 7:1); berusaha untuk menganiaya Yesus (Yoh 5:16); berusaha untuk menangkap Dia “tapi Dia luput dari tangan mereka” (Yoh 10:39); dan terus memburu Dia (Yoh. 11:57).
JesusWantePoster.png~original
Namun, musuh-musuh Yesus tidak bisa menembus pagar ilahi-Nya sampai Yesus dengan rela menyerahkan nyawa-Nya dengan mengambil dosa-dosa kita untuk ditanggung di salib. Bukankah luar biasa bahwa semua musuh-Nya berencana untuk membunuh-Nya, tetapi Yesus terus melayani di tempat-tempat umum tepat di bawah hidung mereka TANPA pernah dicelakai atau tanpa Dia sendiri menggunakan kekerasan. Mereka hanya tidak bisa mendapatkan akses kepada-Nya karena perisai Mazmur 91-Nya.
Yesus dengan berani bisa berkata selagi akhir hidup-Nya mendekat, “Penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku” (Yoh 14:30) – Dengan kata lain tidak ada akses untuk menindas. Yesus bahkan telah diperingatkan tentang pengkhianatan Yudas terlebih dahulu sehingga itu bisa saja dihindari. Yesus memilih untuk perlindungan itu dihapus.
Ketika sepasukan tentara datang untuk menangkap Yesus, Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa, “Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?” Mat. 26:53.
Betapa itu merupakan satu ayat kitab suci yang indah mengenai kuasa doa! Malaikat secara massal mendengarkan untuk menjawab doa-doa orang benar.
Tetapi dengan membuang kuasa-Nya ini, Yesus memilih untuk tidak memberlakukannya sehingga Dia bisa meletakkan hidup-Nya bagi kita. Tidak seorangpun atau satu setanpun yang mengambilnya dari-Nya. (Yoh. 10:18).
Sekarang apa yang salah dengan mengajukan pertanyaan, “Apakah yang akan Anda lakukan jika seseorang hendak membunuh keluarga Anda?”
Nah, mempertanyakan terlebih dahulu kepada saya apa yang saya secara hipotetis akan lakukan jika Allah GAGAL muncul untuk melindungi keluarga saya atau membawa kami ke tempat aman, adalah suatu pertanyaan yang agak tidak memberkati karena itu MENGANGGAP keadaan ditinggalkan oleh Allah.
Jadi, saya memutuskan bahwa saya akan membunuh manusia lain untuk membela diri itu didasarkan pada anggapan cacat dimana saya BERPIKIR saya memiliki pengetahuan yang sempurna tentang masa depan mengenai apa yang akan terjadi jika saya TIDAK menembak lengan dan kaki penyerang saya sebelum mereka benar-benar melakukan kontak fisik dengan saya atau keluarga saya.
Bagaimana mungkin kita PERNAH tahu dengan pasti, titik yang tepat dimana kita harus “secara resmi” menyerah tentang campur tangan Tuhan dan sebaliknya mulai membanjiri gelombang udara dengan pesta peluru? Apakah Anda mengerti? Itu benar-benar tidak bisa diketahui. Apa yang sebenarnya ditanyakan di sini adalah, “Pada titik manakah kita menyerah (berhenti percaya) terhadap penyelamatan intervensi Allah?”
Tapi sekali lagi, itu adalah pertanyaan yang tidak diberkati. Penyelamatan Tuhan bekerja dalam cara-cara yang berbeda pada waktu-waktu yang berbeda. Markus 16:18 menjanjikan bahwa racun dan gigitan ular (yaitu penderitaan) tidak akan mencelakakan kita.
Paulus benar-benar digigit ular, dan kemudian ia menepiskan itu ke dalam api tanpa efek sakit pada dirinya sendiri. Tapi, bagaimana jika Paulus panik dan melepaskan imannya ketika ia baru saja digigit? Bagaimana jika Paulus beralasan bahwa Allah tidak memperingatkan dia terlebih dahulu sehingga dia bisa menghindari gigitan ular menyakitkan, oleh karena itu Paulus harus mengurus masalah itu dengan tangannya sendiri. Paulus mungkin kemudian berlari menjauh panik mencoba untuk menemukan jamu atau anti-racun yang terbaik pada jaman itu. Tetapi Paulus tidak melakukan hal ini sama sekali. Dia malah tetap berdiri teguh dan hanya “menepis” gigitan ular itu dalam iman. Saya tentu tidak mengatakan bahwa kita seharusnya tidak mengambil obat untuk penyakit. Tapi dalam situasi darurat, kita BISA mengandalkan intervensi pelindung Allah. Itu MEMANG suatu pilihan.
Kadang-kadang kita MEMANG diperingatkan sebelumnya tentang ular atau racun sehingga kita bisa menghindarinya. Tapi kali LAIN, ular itu secara menyakitkan menggigit kita dan racun itu memasuki sistem kita. Namun pada saat ini, iman kita masih bisa menjaga kita untuk tidak dirugikan oleh bisa atau racun itu.
Tuhan tidak menjanjikan kita tidak akan “digigit” oleh penindasan, tapi Dia berjanji kita tidak akan “dicelakakan” olehnya jika kita berjuang dalam pertandingan iman yang baik. “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.” – (NKJV: Lihatlah, Aku memberikan kepadamu kuasa untuk menginjak ular dan kalajengking, bahkan atas seluruh kekuatan musuh: dan tidak akan ada dengan cara apapun menyakitimu.”) Luk.10:19.
Luk 10_19
Apa yang bekerja untuk gigitan ular pasti bekerja untuk peluru-peluru. Kesaksian-kesaksian Kristen (oleh para misionaris, tentara dan lain-lain) berlimpah mengenai senjata-senjata yang macet, sasaran yang meleset, jalur peluru yang melengkung, dan fenomena supranatural pelindung demikian lainnya. Tentu saja kesaksian-kesaksian ini sebagian besar bersifat anekdot, namun biasanya merupakan mukjizat-mukjizat spontan.
Dalam Matius 5:38-48, saya tidak melihat ketika Yesus mengatakan untuk menjadi sempurna seperti Abba surgawi-Nya yang sempurna itu mencakup meledakkan kepala musuh kita dari bahu mereka. Apapun yang kita putuskan untuk melakukan, iman seharusnya datang mendahului ketakutan. Masalah dengan kebijakan kekerasan yang dibenarkan adalah bahwa hal itu menempatkan ketakutan mendahului iman.
Saya tentunya menghargai kesediaan yang berani dari para ‘tentara dan perwira penegakan hukum’ untuk menempatkan diri mereka ke dalam cara-cara yang mencelakakan, tapi saya tidak menganjurkan bahwa siapa pun dibunuh adalah pelindung terbaik Allah untuk suatu situation SATU KALIPUN — tidak sekarang, tidak pernah. Ada suatu cara yang lebih tinggi.
Para orang fanatik dari zaman Yesus mengharapkan kehadiran seorang Yesus GI Joe pembunuh dengan bendera Israel di satu tangan dan pedang penggorok tenggorokan di tangan yang lain.
Apa yang mereka dapatkan adalah Anak Domba Allah. Dan mereka marah karena Dia tidak akan mendukung cara pembunuhan mereka. Dan banyak orang jaman ini cenderung marah juga ketika seseorang mengkritik cara pembunuhan kita.
Ini bukanlah mengenai suatu hal yang patriotik tetapi hal Yesus. Kita diberitahu oleh-Nya untuk TIDAK hidup dengan pedang karena Dia akan melindungi kita dengan cara lain. Dan jika kita merasakan panggilan untuk menolak pembebasan Tuhan itu dan meletakkan hidup kita sampai ke suatu dampak maksimum sebagai martir, maka seperti kata Paulus, mati adalah keuntungan.
Sekali lagi, pilihan ini amat sangat pribadi dan semua orang harus menjalani jalan mereka sendiri. Saya tidak akan pernah mengutuk siapa pun yang membela seseorang yang sedang diserang. Saya hanya berharap orang-orang yang MEMANG mempercayai pembalasan fisik juga tidak akan menghukum orang lain yang memilih untuk menjalani suatu jalan yang berbeda dan yang non-kekerasan.
Saya percaya saja bahwa ada cara yang lebih tinggi yang sedang menunggu untuk “ditemukan kembali” oleh putra dan putri Allah. Dan saya bahkan tidak bisa mengatakan apa yang akan saya lakukan dengan pasti. Tetapi saya memiliki suatu ideal kemana saya mudah-mudahan akan capai. Jadi, di sini saya hanya menganjurkan pilihan lain untuk dipertimbangkan. Kemudian biarkanlah kita masing-masing bertindak sebagaimana yang kita dengar Roh memimpin.
  
Catatan:
Ini adalah terjemahan dari pos yang ditulis oleh Richard Murray.
You can also read the full original English note on facebook: SHOULD CHRISTIANS USE VIOLENCE TO DEFEND THEMSELVES?

No comments:

Sukai blog ini / Like this blog:

Popular Posts