Showing posts with label Richard Murray. Show all posts
Showing posts with label Richard Murray. Show all posts

Friday, May 22, 2015

Kenalilah #Nyali Anda

Yesus berkata bahwa perut kita adalah sumber kehidupan rohani kita. “Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya (NKJV: perutnya) akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yoh. 7:38. Dalam ayat di atas, kata Yunani untuk “perut” adalah “coilia.” Ini menunjukkan rahim, perut dan lubuk hati, tetapi juga dapat merujuk ke seluruh rongga perut fisik kita. Menariknya, koilia merupakan dasar untuk kata Latin “surga,” yaitu “coelum.” Dengan demikian, titik sentuhan surga dalam diri kita adalah nyali \ perut kita.

rivers out of bellyDalam Perjanjian Lama, “nyali” adalah pusat spiritual manusia. Alkitab King James menerjemahkan daerah usus ini sebagai “tali kendali”, yang dalam bahasa Ibrani adalah “kilyah” dan secara harfiah berarti “ginjal.” Orang-orang Yahudi percaya bahwa “tempat dari kehendak, emosi, pikiran dan kuasa-kuasa spiritual sering ditemukan di area umum sistem gastro-intestinal (pencernaan makanan).” OUR FATHER ABRAHAM: JEWISH ROOTS OF THE CHRISTIAN FAITH, oleh Marvin Wilson. (Catatan tambahan penerjemah: Indonesia sendiri menggunakan istilah hati (liver) untuk makna yang sama terhadap jantung dalam bahasa Inggris: heart.)

Lebih khusus, ginjal mewakili baik pusat fisik maupun spiritual manusia. Bahkan pada hewan, ginjal dan darah tidak dimakan karena itu mewakili kehidupan rohani hewan dan dengan demikian dikuduskan sebagai hanya untuk dimiliki Allah. (Im 3:10-11; 17:11).

Pertimbangkanlah ayat-ayat Perjanjian Lama berikut yang menekankan pentingnya ginjal \ tali kendali [usus] \ perut:

“Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya (Eng: seluruh bagian dalam perutnya).” Ams. 20:27.

“Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku (YLT: tali kendali [usus]ku) mengajari aku.” Mzm 16:7.

“Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku (YLT: tali kendali [usus]ku) dan hatiku.” Mzm. 26:2.

“Engkau membuat mereka (orang jahat) tumbuh, dan merekapun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga. Memang selalu Engkau di mulut mereka, tetapi jauh dari hati (YLT: tali kendali [usus]) mereka.” Yer. 12:2.

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku (YLT: tali kendali [usus]).” Mzm. 139:13.

“Jiwaku (YLT: tali kendali [usus]ku) bersukaria.” Ams. 23:16.

“Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu (YLT: tali pusatmu) dan menyegarkan tulang-tulangmu.” Amsal 3:7-8.

“Ia (Yesus) tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.” ~ “Dan kebenaran akan menjadi sabuk pinggang-Nya, dan kesetiaan menjadi ikat pinggang(usus)-Nya.” Yes. 11:5. Sungguh ayat luar biasa yang menunjukkan bagaimana Yesus menggunakan usus-Nya untuk memegang perjanjian-Nya dengan Bapa!

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin (YLT: tali kendali [usus]), untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yer 17:10.

“Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel.” Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab itu kumakan. Lalu firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu.” Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.” Ezek.3:1-3.

“Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.” Mzm. 51:6. “dalam batin” di sini adalah “tuwchah” dan itu adalah kata lain untuk “ginjal.” Itu berasal dari “tachah,” yang berarti “meregangkan suatu busur, sebagai seorang pemanah.” Ini adalah suatu konfirmasi besar dari Logos sebagai busur pewahyuan batin yang melepaskan panah-panah rhema pembebasan kepada hati, pikiran dan mulut kita.

“Lalu aku (Daud) berkata: “Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku (secara harfiah “di tengah perut saya”). Mzm. 40:7-8.

Dalam PERJANJIAN BARU, pentingnya perut \ ginjal \ tali kendali (usus) ditegaskan dan ditekankan LAGI:

“Semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.” Wahyu 2:23. Kata Yunani “batin” di sini adalah “nephros,” yang lagi-lagi secara harfiah berarti “ginjal.” Sarjana Yunani W.E. Vines menyatakan, “Kehendak dan kasih sayang dianggap memiliki tempatnya di dalam ginjal.”

“Karena itu kenakanlah, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, perut yang penuh belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” Kol. 3:12, YLT. Kata “perut” adalah dari bahasa Yunani “splancha.” W.E. Vines sekali lagi menyatakan “splancha” sebagai tempat dari gairah yang lebih keras untuk bahasa Yunani, tetapi untuk bahasa Ibrani itu adalah tempat dari kasih sayang yang lembut. Dilihat dari sudut ini, hidup dari nyali akan menghasilkan orang-orang berdosa penuh nafsu dalam orang-orang yang belum ditebus, tapi hidup dari nyali untuk orang-orang yang telah ditebus akan menghasilkan juara Allah yang sungguh-sungguh dan berhati lembut. Lihatlah juga 2 Kor. 6:12; 7:15; Pilipi 1:8; Filemon 7,12,20; 1 Yoh. 3:17.

“Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.” Mat.14:14. Ketika bagian ayat di atas mengatakan bahwa Yesus “tergerak oleh belas kasihan” untuk menyembuhkan orang banyak, kata Yunaninya adalah “splanchnizomai,” bentuk kata kerja dari “splancha” yang sebelumnya dibahas di atas. Splanchnizomai berarti digerakkan oleh perut atau batin untuk seseorang melakukan beberapa fungsi. Kata ini sering dicatat mengenai sikap Kristus terhadap orang banyak dan terhadap individu yang menderita. Lihatlah Mat. 9:36; 15:32; 18:27; 20:34; Mrk. 1:41; 6:34; 8:2; 9:22; Luk. 7:13; 10:33; 15:20.)

“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Rom. 8:5-6.

Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kol. 3:2.

“Tapi dia berbalik, dan berkata kepada Petrus, Enyahlah, Iblis: Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku. Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” Matius 16:23.

Kata yang diterjemahkan dalam ayat-ayat di atas sebagai “pikiran,” “memikirkan,” dan “pikirkanlah” semuanya berasal dari kata Yunani yang sama (“phronema” kata benda, “phroneo” kata kerja), akar katanya adalah “phren” yang diterjemahkan sebagai “perut” atau “abdomen.” Jadi, sekali lagi kita melihat bahwa ayat-ayat suci memanggil kita untuk hidup oleh nyali. Kita harus mengatur nyali kita kepada hal-hal di atas, kepada roh dan kepada hal-hal yang dari Allah. Sungguh ini suatu intensitas viseral (=mendalam / jeroan) yang ditambahkan kepada ayat-ayat suci itu. Lihatlah juga Roma 8:27; 12:16; 15:5; 2 Kor.13:11; Gal. 5:10; Filipi 2:2,5; 3:15,19.

Apresiasi terhadap nyali manusia memiliki sejarah panjang dan terhormat sebagai suatu tempat yang terus berkembang dalam ilmu dan kedokteran. Dalam sejarah, nyali / usus (tali kendali) / perut manusia memiliki tempat kunci di semua negeri Timur. Budaya ini menghormati usus sebagai sumber “chi,” yang mengacu pada kekuatan hidup atau energi vital kehidupan.

Di Cina, konsep ini disebut “qi” atau “chi” dan di Korea dan Jepang itu disebut “ki.” Konsep-konsep Cina, Korea dan Jepang mengenai chi adalah hampir identik. Istilah India, “prana” atau “pranja,” memiliki koneksi yang sama dengan ide tentang roh. Kekuatan hidup ini terletak di perut (“hara“) di mana ia dikendalikan oleh nafas.

Diperkirakan bahwa chi seseorang dapat dilihat pada kepribadian orang itu dan dalam semua tindakan luar, dan itu lebih kuat daripada kekuatan fisik sendiri. Itu dianggap sebagai refleksi dari manusia yang di dalam. Oleh karena itu chi yang kuat adalah setara dengan karakter yang baik. Chi merupakan konsep penting dalam filosofi Asia yang mendasari semua seni bela diri.

Saya tidak menggembar-gemborkan filsafat Timur sama sekali karena seluruhnya tidak memiliki pengetahuan penyelamatan Yesus Kristus. Tapi, mereka bersama-sama dengan Israel dan orang-orang Yunani, telah mengidentifikasi pusat sejati spiritualitas manusia – nyali!

Ilmu pengetahuan kini telah menemukan bahwa nyali manusia adalah memang apa yang Webster katakan: “dasar viseral atau bagian emosional dari seseorang”. Nyali sebenarnya memiliki otaknya sendiri yang membentuk sistem saraf enterik sementara itu tetap terhubung ke sistem saraf pusat dan otak lainnya yang terbungkus dalam tengkorak kita.

Dalam buku THE SECOND BRAIN (OTAK KEDUA), Dr. Michael Gerson melaporkan bahwa ada seratus juta neurotransmiter yang melapisi usus, jumlah perkiraan yang sama dengan yang ditemukan di otak. Tampaknya kemampuan untuk ekspresi perasaan dan emosional kita tergantung terutama pada usus lalu pada otak di tingkat lebih rendah.

Gerson mengatakan, “usus mungkin lebih intelektual dari pada jantung dan dapat memiliki kapasitas yang lebih besar untuk perasaan.” Beberapa kimia yang meningkatkan suasana hati tampaknya dirilis melalui neurotransmitter di dalam usus ini. Nyali sebagian besar masih merupakan suatu misteri bagi ilmu pengetahuan dan obat-obatan, namun kepentingannya semakin terungkap dan diteguhkan.

Keping koin dari dunia laskar spiritual adalah kekuatan dan keberanian. Setiap orang percaya membutuhkan “cek nyali” untuk kedua harta ini. Tanpa kekuatan dan keberanian yang membakar di perut kita, perjalanan iman kita lembek dan bersifat pengecut.

Tiga kali dalam Yosua 1 Tuhan mendesak umat-Nya untuk menjadi kuat dan berani saat mereka menyerbu Tanah Perjanjian. Rasul Paulus mengingatkan kita: “Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!” (1 Kor 16:13). Sama seperti atom-atom harus bersama-sama dalam tabrakan keras untuk menghasilkan tenaga nuklir, begitu juga kekuatan dan keberanian adalah dinamo kembar yang memberi energi kepada iman kita untuk mengatasi dunia.

Ada sesuatu yang hilang dalam iman yang diberitakan saat ini. Kita diajarkan bahwa iman adalah kesepakatan jiwa dengan firman Allah. Kita terus bersepakat namun tetap kalah dalam pertempuran setiap hari dengan Iblis. Unsur yang hilang berada di ranah nyali. Di sinilah pertempuran iman itu benar-benar diperjuangkan.

Persetujuan jiwa saja hanyalah berharap dan tidak memerlukan kekuatan atau keberanian. Persetujuan nyali adalah keinginan terdalam yang dinyalakan oleh semua kekuatan dan keberanian yang bisa dikerahkan oleh seorang pahlawan. A.W. Tozer berkata, “Bisa dikatakan tanpa kualifikasi bahwa setiap manusia adalah sama suci dan penuh Roh sebagaimana yang ia ingin jadi. Dia mungkin tidak menjadi sama penuh sebagaimana yang ia harapkan, tapi dia pasti menjadi sama penuh sebagaimana yang ia inginkan.” Iman yang benar lahir di dalam perut kegairahan “menginginkan” bukannya perairan stagnan mental “berharap.”

Orang-orang Yahudi mempercayai kasih sayang terdalam manusia terkait dengan daerah ginjal dan usus. Alkitab King James menerjemahkan tempat ini sebagai “tali kendali” (Mzm 7:9). Alkitab New American Standard menerjemahkan daerah ini sebagai “batin” (Mzm 139:13) dan “keberadaan terdalam” (Ams 23:16). Akal sehat menerjemahkan kata ini sebagai “nyali/ keberanian.”

Yesus menegaskan hal ini ketika Ia berkata, “Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya (KJV: akan mengalir aliran-aliran air hidup.” (Yoh. 7:38). Buku tentang Martyrs oleh Foxe menjelaskan “kegigihan perut” sebagai suatu kualitas kunci dari juara-juara spiritual. Biarlah setiap orang percaya meraih kekuatan nyali yang sama ini dalam pertempuran melawan kejahatan.

Pelari Olimpiade legendaris Steve Prefontaine mengatakan, “Banyak orang menjalankan perlombaan untuk melihat siapa yang paling cepat. Aku berlari untuk melihat siapa yang paling memiliki nyali.” Prefontaine memahami bahwa nilai suatu kompetisi yang benar bukanlah mengenai kemampuan, tetapi keinginan batin. Secara rohani, Tuhan juga menghargai keberanian lebih daripada kemampuan karena “kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat” (Pkh. 9:11). “Perlombaan” spiritual dimenangkan dengan “ketahanan” memilukan oleh nyali yang menolak untuk menjadi “tawar hati” (Ibr 12:1-4).

Disraeli mengatakan, “Manusia hanya benar-benar hebat (menjadi besar) ketika ia bertindak dari gairah.” Biarlah setiap orang perkasa menginginkan kebesaran penuh gairah dalam pelayanan Tuhan kita. Manusia merasa paling hidup dan paling sukses saat nyali mereka terbakar. Hal ini berlaku dalam perang, olahraga dan cinta.

Kegairahan yang benar mengalir dari perut dalam bentuk kegembiraan, keinginan dan usaha. Nilailah kekuatan dan keberanian sebagai bahan bakar iman yang menempatkan halilintar di perut Anda dan kemenangan dalam hidup Anda. Ingat, kekuatan spiritual ditambahkan dengan keberanian spiritual sama dengan nyali spiritual. Selesaikanlah persamaan itu sekarang dengan sungguh-sungguh mencari Tuhan untuk berkat ini. “Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.” (Mzm 138:3).

bold and strong answeredDalam pemikiran Ibrani, ginjal secara spiritual melambangkan kehendak Allah bagi hidup kita. Tuhan memiliki suatu naskah yang disebut “volume buku,” di dalam mana tertanam kehendak Allah yang sempurna untuk setiap saat, setiap hari selama sisa hidup kita. Rujukan terhadap buku takdir ini mungkin dapat disebut terdapat dalam ayat-ayat berikut: Ibr. 10:7; Mzm. 40:7. Tampaknya “ginjal” kita, sebagai simbol atau sebutan lain dari roh kita, mungkin “on line” dengan volume buku itu karena berkaitan dengan naskah kehidupan pribadi kita.

Alkitab memberitahu kita bahwa ginjal kita mengajar kita (Mazmur 16:7), terutama pada malam hari saat kita tidur dan di pagi hari ketika kami pertama kali mencari Tuhan. (Yesaya 50:4; Yer 7:13, 25; 11:7; 21:12; 25:34; 26:5; 29:19; 32:33; 35:14-15; 44:4; Mzm. 30:5). Selain itu, ketika Mzm. 73:21 mengatakan, “buah pinggangku (tali kendaliku) menusuk-nusuk (saya) rasanya,” kata “menusuk” (shanan) juga berarti “mengajar dengan tekun” (lihat kata yang sama itu digunakan dalam Ulangan 6:7). Jadi ayat ini bisa dibaca mengatakan bahwa “Saya dengan tekun diajar dalam ginjal saya.” Tuhan menguji dan menyelidiki tali kendali kita untuk tujuan kita menerima instruksi kehendak-Nya di dalam nyali kita dan juga urapan untuk melakukannya. (Filipi 2:13; lihat juga Mzm 7:9; 26:2; Amsal 11:20; Yer 17:10; 20:12; Wahyu 2:23).

2 Timotius 1:9 mengatakan tujuan kita dalam Tuhan telah diberikan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum dunia dimulai. Jika di dalam usus kita ada tertanam sebuah gulungan kebijaksanaan ilahi dan pengurapan tak terbatas untuk berjalan sebagai anak-anak terang, maka kita harus gigih memegangnya.

Nyali (pengetahuan viseral) kita karena itu mungkin menjadi titik sentuh antara Allah dan manusia. Dari titik sentuhan ini sungai dari air kehidupan mengalir melalui hati kita, pikiran dan tubuh. (Yoh. 7:38). Bukankah menarik bahwa ginjal menghasilkan 200 liter air murni laboratorium setiap hari! Sungguh suatu penghargaan bagi nyali kita sebagai sumber penyegaran murni dan pembersihan keberanian fisik maupun spiritual.

Mungkin sudah waktunya kita mulai lebih menjalani hidup dari nyali dengan mengingat takdir kita.

  

Catatan:

Ini adalah terjemahan dari catatan yang ditulis oleh Richard Murray.

You can also read the original English note on facebook: GET TO KNOW YOUR “GUT”


Thursday, May 21, 2015

Apa Yang #Tuhan Tidak #Mau Lakukan Tidak #Bisa Dia Lakukan

Pada satu titik dalam karakter ilahi Tuhan, “tidak bisa” dan “tidak mau” berpadu menjadi satu hal yang sama. Ayat Kitab Suci berkata “mustahil” (Titus 1:2) bagi Allah untuk berdusta. Namun bagaimana ini bisa terjadi?

god-does-not-lie

Tuhan tidak berdusta.

Bukankah Allah memiliki kebebasan bawaan untuk berdusta jika saja Dia mau? Lagipula Dia sepenuhnya berkuasa. Tidakkah itu memberi-Nya hak, kuasa, otoritas, kemampuan untuk berdusta kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun yang Dia mau?

Bahkan kalaupun kita sedang berbincang secara hipotetis, tidak dapatkah Tuhan menceritakan suatu dusta gemuk besar jika Dia memutuskan melakukannya? Tidak! Sama sekali tidak mungkin! Tidak jika benar ayat yang mengatakan adalah MUSTAHIL bagi Allah untuk berdusta. Bagaimana bisa begini?

Nah, hanya ada satu penjelasan yang bisa diterapkan. Jika Allah tidak mau melakukan sesuatu, maka Dia tidak akan bisa. “Tidak mau” dan “tidak bisa” berarti hal yang persis sama bagi-Nya. Tuhan itu begitu dimurnikan dalam tujuan sempurna, begitu royal dalam terang cinta, dan begitu konstan dalam karakter yang konsisten, bahwa DIA “TIDAK AKAN” DAN “TIDAK BISA” MELANGGAR SIFAT-NYA SENDIRI —— TIDAK PERNAH —– TAK AKAN PERNAH!

Perbedaan ini tidak hanya bersifat semantik. Kita, sebagai manusia, semua seringkali berbohong pada berbagai tingkat, kepada diri kita sendiri, kepada orang lain, kepada Allah, melalui baik kelalaian maupun tugas, melalui melebih-lebihkan, meminimalisasi ataupun distorsi. Biarlah Allah benar dan setiap manusia pembohong. Roma 3:4.

Berlawanan dengan Allah, “tidak mau” dan “tidak bisa” KITA berarti dua hal yang sama sekali berbeda. Kita BISA berbohong di setiap saat dan tempat, dan kita memang sering MELAKUKANNYA. Kadang-kadang kita TIDAK MAU dan TIDAK berbohong pada situasi tertentu, tetapi jika ada cukup tekanan tambahan yang diterapkan, kita pasti BISA segera melakukannya.

Tapi, karakter Tuhan yang sempurna telah membuat dosa “tidak mungkin” bagi-Nya. Sifatnya telah melampaui jauh di atas dosa bahkan sebagai suatu kemungkinan hipotetis. Yesus telah membuktikan itu dengan tetap tanpa dosa di bumi, tanpa dosa selagi Dia menyiksa neraka, dan tanpa dosa ketika Dia naik ke Surga.

Kita juga akan pada akhirnya mencapai keadaan kesempurnaan tanpa dosa yang sama di mana “tidak mau” kita bergabung dengan “tidak bisa” kita. Kita “tidak akan (mau)” melakukan dosa karena kita “tidak bisa” melakukan dosa. Inilah semua tentang apa yang merupakan akhir perjalanan iman. Ini adalah karya pengudusan Roh Kudus yang Yesus katakan bertumbuh dan bertumbuh dan bertumbuh dari dalam diri kita sampai “keseluruhan” keberadaan kita telah “dikhamirkan” dengan Kerajaan Allah. Lukas 13:21.

kingdomleaven3

“Kerajaan Allah seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” (Lukas 13:21)

Dan dinamika ini tidak hanya berlaku untuk berbohong. Ini juga menjelaskan mengapa Allah tidak pernah memaksa, membunuh, melukai, menindas, menimpa atau bertindak dalam cara APAPUN yang tidak layak lainnya ke arah kita. Ini tidak ada dalam sifat-Nya saja. Dia tidak akan melakukannya karena Dia tidak bisa melakukannya. Dia tidak bisa melakukannya karena Dia tidak akan / mau melakukannya. Kata-kata itu berarti hal yang sama KARENA Allah secara sempurna berada dalam kesatuan dan dengan mulus terjalin dalam kemurnian dan kesempurnaan.

“Bagaimana Engkau bisa menjadi Mahakuasa, ya Allah, jika Engkau tidak dapat melakukan semua hal? Bagaimana Engkau dapat melakukan semua hal jika Engkau tidak dapat berdosa — jika Engkau tidak bisa berbohong, jika Engkau tidak dapat membuat yang palsu menjadi yang benar? Jika Engkau tidak dapat berbuat dosa, Engkau tidak dapat mengklaim untuk menjadi yang sama dalam melakukan segala sesuatu. Atau apakah dosa itu berasal bukan dari kekuasaan (keberdayaan), tapi dari ketidakberdayaan? Karena mereka yang melakukan dosa memiliki begitu sedikit kekuatan atas kodrat mereka sendiri sehingga mereka benar-benar mencelakakan diri mereka sendiri. Mereka bergantung pada belas kasihan dari kekuatan-kekuatan yang mereka tidak dapat lawan ….

Semakin orang memiliki kekuatan untuk berbuat dosa, semakin mereka menjadi tidak berdaya. Jadi Tuhan Allah, pada kenyataannya Engkau lebih sungguh-sungguh Maha Kuasa karena Engkau tidak dapat bertindak melalui ketidakberdayaan.” Saint Anselm, Prosologion, Bab 7.

Seperti yang Anselm katakan, Tuhan bersifat Maha Kuasa hanya dalam konteks karakter-Nya. Dia semuanya ADALAH baik, penuh kasih, heroik dan penuh belas kasihan KARENA inilah sifat inti dari cahaya dan cinta yang Yesus ungkapkan. Tapi, Dia semuanya BUKAN penuh murka, kekerasan, kejam dan kebencian dengan penuh kuasa KARENA Dia tidak bisa dan tidak akan beroperasi dalam motif dan tujuan yang beracun dan tidak layak ini.

Setelah kita memahami apa yang Allah “tidak ingin” dan “tidak bisa” dengan cara yang jelas, kita sekarang siap untuk memahami kebaikan Allah yang “bisa” dan “mau”. “Bisa” dan “mau / ingin” juga berarti hal yang persis sama bagi Allah. Tuhan SELALU bersegera “menginginkan dan melakukan” kebaikan tertinggi yang tersedia yang iman kita bisa terima.

 

Catatan:

Ini adalah terjemahan dari pos yang ditulis oleh Richard Murray.

You can also read the original English note on facebook: WHAT GOD WILL NOT DO HE CANNOT DO


Tuesday, May 19, 2015

Implikasi dari #Waktu

Mari kita bergembira dalam spekulasi yang mencengangkan tentang implikasi dari “waktu.”
Mari saya mulai dengan pertanyaan.
Dari sudut pandang Allah:
– Kapan Adam berjalan dengan Tuhan?
– Kapan Abraham mengenali Allah adalah sahabat-Nya?
– Kapan Musa bertemu Tuhan dalam semak yang terbakar?
– Kapan Daud menari di depan tabut kehadiran Tuhan?
– Kapan Yesus dibangkitkan oleh kehadiran Tuhan?
– Kapan Anda pertama kali mengenal Allah sebagai Abba Anda?

Jawabannya adalah bagi Allah, semua peristiwa ini terjadi ….. SEKARANG. Atau dengan cara yang lebih baik, mereka semua sedang terjadi SEKARANG.
Untuk Tuhan, SEMUA peristiwa terjadi secara bersamaan. Mengapa? Karena dengan menggunakan frase Kurt Vonnegut, Allah “tidak mandek dalam waktu.”

time-eyeInilah sebabnya mengapa kita diperingatkan, “Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.” 2 Petrus 3:8. Waktu untuk Allah semata-mata BUKANLAH hal yang sama seperti waktu untuk manusia.

Ini juga menjelaskan mengapa Yesus, sebagai Anak Domba Allah, telah disembelih sejak penciptaan dasar bumi. Alkitab mengatakan Allah berhenti pada hari ketujuh dari SEMUA pekerjaan-Nya KARENA Dia mengalami semua manusia untuk semua waktu dan semua peristiwa secara bersamaan.

“Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih sejak dunia dijadikan. Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” Wahyu 13:8-9, NKJV.

“Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Ia katakan: “Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku,” sekalipun pekerjaan-Nya sudah selesai sejak dunia dijadikan.” Ibrani 4:3.

Game over, bung.

Ini seperti permainan catur di mana Tuhan membuat semua gerakan-Nya dalam satu giliran. Apa yang tampaknya seperti satu linier, “satu-langkah-dalam-satu-waktu,” permainan di mana Allah bergerak pertama, KEMUDIAN kita bergerak, KEMUDIAN Dia bergerak, adalah sebenarnya satu gerakan permainan tunggal bagi Tuhan.

Inilah prinsip simultanitas. Ini benar-benar memperlihatkan predestinasi linear sebagai suatu cacat karena Allah tidak bergerak dalam waktu linier. Seperti lintasan lari dengan jalur yang berdekatan, kita tidak berjalan di depan Abraham atau Musa, tetapi di samping mereka, setidaknya dari perspektif Allah. Gunung transfigurasi mengungkapkan lintasan lari ini ketika Musa dan Elia secara bersamaan muncul di sebelah Yesus dalam bentuk fisik.

Jadi, itu bukan soal pra-tujuan melainkan pasca-tujuan. Permainan ini “mulai” maupun “selesai” pada saat yang sama. Allah sedang membimbing semua ciptaan kembali kepada-Nya, beberapa mengambil rute waktu lebih lama dan beberapa lebih pendek berdasarkan respon masing-masing, tapi semua juga di mata Tuhan SUDAH duduk dengan Dia SEKARANG di sorga. Jadi, Allah secara bersamaan mengalami kejatuhan kita, pembaharuan kita dan pemuliaan kita semua pada saat yang bersamaan.

“Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan,” Yesaya 46:9-10.

isaiah-46-9-10-religion-hd-wallpaper-1920x1200-3641Sementara beberapa teolog tidak setuju dengan pemahaman terhadap waktu yang ini, beberapa teolog terkenal sudah pasti setuju.

“Tuhan tahu semua kejadian dalam satu tindakan kohesif tunggal kesadaran, yang kontras dengan bentuk-bentuk terbatas yang diketahui mungkin bagi makhluk ciptaan yang berada di bawah persyaratan waktu (Yohanes 17:24; Efesus 1:4; 2 Timotius 1:9). Kemahatahuan Ilahi berarti bahwa Allah menggenggam semua waktu seolah-olah itu adalah satu keutuhan – sekarang: ‘Bagi Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun, dan seribu tahun sama seperti satu hari’ (2 Petrus 3:8; Mazmur 90:4). Cara Tuhan dalam mengalami waktu adalah dalam simultanitas radikal di mana masa lalu, masa sekarang, dan masa depan saling berpadu tanpa dipenjarakan sebagai pikiran-pikiran yang terbatas dalam iring-iringan gerakan dari masa lalu ke masa kini ke masa depan.

Tidak seperti manusia fana yang hidup dalam waktu, Tuhan selalu telah ada (Kejadian 21:23) dan akan ada (Ulangan 5:23). Tetapnya Tuhan “tidak berubah seperti pergeseran bayangan” (Yakobus 1:17). Allah merangkul waktu dalam pemahaman sepenuhnya, sedangkan kita mengalami waktu hanya dalam mode berlalunya yang menghilang secara konstan. Melalui doa oleh kasih karunia orang percaya berpartisipasi dalam pelukan pengetahuan Allah akan waktu.

Waktu adalah bagian dari susunan yang telah diciptakan, yang berbeda dengan esensi ilahi. Dengan dunia, waktu diciptakan. Sebelum ada waktu, tidak ada satupun selain Allah. Oleh karena itu tidak ada waktu ketika Engkau belum menciptakan apa-apa, karena Engkaulah yang menciptakan waktu sendiri” (Agustinus, Conf. 11.14). Kehidupan kekal menunjuk kepada suatu kehidupan yang beregenerasi untuk pantas hidup di hadapan Allah yang hidup dan kekal (Yohanes 5:24) Thomas C. Oden, A CLASSIC KEKRISTENAN: A SYSTEMATIC THEOLOGY, HarperOne, pp 825-826 (1992).

“Karena Allah hidup dalam suatu masa kini yang kekal, Dia tidak memiliki masa lalu dan masa depan. Ketika kata-kata penunjuk waktu muncul dalam Kitab Suci, kata-kata itu merujuk ke waktu kita, tidak ke waktu-Nya. Ketika keempat makhluk di hadapan tahta itu berseru siang dan malam, “Kudus, kudus, kudus, Tuhan Allah Yang Mahakuasa, yang telah ada, dan yang ada, dan yang akan datang,” mereka mengidentifikasi Allah dengan aliran kehidupan makhluk ciptaan dengan tiga bentukan kata waktu yang akrab; dan ini adalah benar dan baik, karena Allah telah secara berdaulat menghendaki demikian untuk mengidentifikasi diri-Nya. Tapi karena Allah tidak diciptakan, Dia sendiri tidak dipengaruhi oleh rangkaian perubahan berturut-turut yang kita sebut waktu.” AW Tozer, THE KNOWLEDGE OF THE HOLY (PENGETAHUAN DARI YANG KUDUS).

“..Akulah Allah .. yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan,” Yesaya 46:9-10.

“Nunc fluens facit tempus, nunc Stans facit aeternitatem. Masa kini yang berlalu menghasilkan waktu, masa kini yang bertahan menghasilkan keabadian.” Boethius (c. 475 – 525).

“Di mata Tuhan, tidak ada sebelum dan sesudah. ​​Setiap saat dari waktu terjadi simultan bagi Allah.” Michael Novak, Teolog Katolik.

Apakah pikiran Anda sudah mengembang? Saya tahu pikiran saya sudah.

Catatan:

Ini terjemahan dari pos yang ditulis oleh Richard Murray.

You can also read the original English note on facebook: The Implications of “Time.”


Monday, May 18, 2015

Apakah #Allah Turut Campur Tangan dalam #Urusan-urusan #Manusia?

Dengan mengatakan campur tangan, saya TIDAK mengartikan apakah Tuhan selalu berpihak pada satu manusia menentang manusia lain, atau selalu berpihak pada satu partai politik menentang yang lain, atau selalu berpihak pada satu negara menentang yang lain, atau selalu berpihak satu kelompok menentang yang lain. Saya tidak menanyakan apakah Tuhan secara impulsif mengambil sisi rendah dalam konflik manusia. Dia mengasihi semua orang secara sama, anak-anak bungsu pemboros yang hilang, anak-anak bungsu pemboros yang kembali, saudara-saudara lebih tua yang pahit, dan saudara-saudara lebih tua yang bertobat. Kita semua berada dalam proses karya-karya, dan Dia adalah untuk SEMUA kita.

Tapi apa yang MEMANG SAYA tanyakan adalah apakah Tuhan secara pribadi campur tangan dalam memperbaiki kondisi-kondisi manusia, dalam mengubah hati manusia, dalam memenuhi kebutuhan manusia, dan dalam menyembuhkan kepedihan manusia. Beberapa pemikir mengambil pandangan deistik bahwa Allah tetap pada dasarnya tidak terlibat dalam aktivitas duniawi. Dia telah menempatkan kita di sini untuk memperkembangkan diri menjadi serupa dengan-Nya oleh pilihan-pilihan sadar kita sendiri. Sampai saat itu, kita pada dasarnya berada pada diri kita sendiri.

Kis 10_38Tapi, apakah ini sikap Allah yang Yesus tampilkan? Sebab jika kita mengatakan Tuhan tidak pernah campur tangan dalam urusan manusia, kita JUGA mengatakan Tuhan tidak pernah menyembuhkan, tidak pernah menyelamatkan, tidak pernah melepaskan, dan tidak pernah menjawab doa kita.

Kita harus bertanya pada diri sendiri apakah pribadi ilahi tanpa-intervensi ini adalah gambar Allah yang Yesus sajikan? Apakah Yesus, sebagai Anak Allah, dan yang adalah representasi yang tepat dari Bapa, PERNAH menolak suatu intervensi yang diperlukan dalam penindasan manusia?

Apakah Yesus, sebagai anak manusia dan yang merupakan Adam kedua, PERNAH gagal untuk campur tangan dan menjalankan pengaruh kerajaan TERHADAP materi (air menjadi anggur, berjalan MELEWATI pintu-pintu yang tertutup), TERHADAP cuaca (menegur badai, berjalan di atas air), TERHADAP kesakitan (atas semua penyakit dan roh kelemahan), dan TERHADAP kekurangan (penggandaan roti, penyediaan koin yang dibutuhkan di dalam perut ikan). Jawaban yang jelas adalah “tidak,” Yesus tidak pernah menolak suatu intervensi.

Perhatikan apa yang dalam semua pelayanan-Nya Yesus TIDAK PERNAH lakukan. Dia tidak pernah “mengandaikan” suatu keajaiban atau “memohon” suatu pembebasan. Dia tidak pernah berkata “tidak” untuk suatu kebutuhan, “tidak pernah” untuk suatu permintaan, “mungkin” untuk suatu doa atau “suatu hari kelak” untuk suatu permohonan putus asa.

Yesus secara imperatif memerintahkan setan untuk keluar pergi (Luk. 4:36), malaikat-malaikat untuk datang (Mat. 26:53), demam untuk pergi (Luk. 4:39), keutuhan untuk datang (Mrk. 5:34), badai mematikan untuk berhenti (Mat 8:26.), jantung mati untuk bangkit (Yoh 18:6), orang yang melakukan kekerasan untuk jatuh (Yoh 11:43), orang yang sakit untuk bangun (Yoh 5:8) dan Iblis sendiri untuk enyah (Mrk. 8:33).

Intinya adalah bahwa semua pelayanan yang Yesus lakukan ADALAH intervensi.

“.. tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” Kisah Para Rasul 10:38.

Yesus ADALAH campur tangan Tuhan ke dalam setiap urusan manusia, setiap hati manusia dan setiap peristiwa manusia. Bahkan, orang dapat berargumentasi bahwa Yesus, melalui karya-Nya yang sudah selesai pada Salib, telah melakukan PRA-intervensi dalam SETIAP kejadian SEPANJANG waktu. Melalui “maksud dan rencana”-Nya (Kisah Para Rasul 2:23), Dia SUDAH menyediakan bagi kita jalan keluar dari setiap pencobaan (1 Korintus 10:13). Dia telah menjanjikan kita hal berikut dalam tafsiran Yunani asli dari Matius 16:19 dan 18:18, “Apa pun yang kau ikat atau lepaskan di Bumi akan JADI, karena SUDAH diikat atau dilepaskan di tempat-tempat Surgawi.”

Keys-to-the-Kingdom-of-Heaven-570x427Kita perlu ingat bahwa Ibrani 4:1-10 mengatakan bahwa Tuhan telah beristirahat dari pekerjaan-Nya. Pekerjaan Tuhan selalu lengkap dan sudah dicapai. Selalu sudah!

Bandingkan itu dengan bintang yang bersinar di malam hari. Citra yang sebenarnya dari bintang itu bersinar melalui kegelapan kita mungkin ribuan atau jutaan tahun (bintang itu sendiri mungkin sebenarnya sudah tidak ada lagi), tapi gambar itu sedang memberikan kita aliran cahaya aktif untuk menembus kegelapan kita. Citra kuno bintang itu selalu sudah menyelesaikan pekerjaannya lama sebelumnya, namun cahayanya bersinar di sepanjang waktu dan ruang untuk menerangi semua “sekarang”-nya kita.

Demikian juga, cahaya Allah dalam Yesus Kristus telah lengkap di waktu lalu di salib dan kebangkitan-Nya, namun cahaya-Nya bersinar di kegelapan kita di semua waktu dan ruang. Cahaya kehidupan-Nya lengkap dan sepenuhnya tercapai. Namun itu masih bersinar saat ini bagi kita seolah-olah itu baru saja terjadi.

Untuk membawa analogi ini lebih lanjut, cahaya bintang yang menyinari kita menawarkan kita cahaya yang kita masih bisa tolak untuk menerima. Saya bisa bersembunyi di bawah selimut, dalam lemari atau menutup mata saja. Ketika saya melakukan ini, saat ini saya menolak dan menghalangi suatu sumber cahaya yang sepenuhnya lengkap dan tergenapi. Di sini, penolakan terhadap cahaya itu tidak didasarkan pada tidak memadainya cahaya itu, melainkan didasarkan pada keengganan saya untuk menerimanya.

Pikirkanlah tentang besarnya kebenaran ini. Jika Allah selalu sudah menolak / melarang setiap bentuk kejahatan, maka kita ditinggalkan dengan suatu kesimpulan yang menakjubkan – – kitalah orang-orang yang membiarkan kejahatan dengan kita menghalangi pelarangan Allah itu melalui ketidakpercayaan pribadi maupun korporat kita.

Atau, dengan kata lain, kita memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak pelarangan Allah terhadap kejahatan. Pelarangan Allah terhadap kejahatan adalah Salib Kristus. Semakin kita menerima pekerjaan selesai Salib, semakin kita membiarkan pelarangan Allah terhadap kejahatan yang kita hadapi. Semakin kita menolak atau mengabaikan pekerjaan selesai Salib, semakin kita melarang pelarangan Allah terhadap kejahatan.

Jadi KAPAN persisnya Yesus MENOLAK segala kejahatan? Hebatnya, tepat pada saat kejahatan menjadi mungkin. Pada penciptaan dasar bumi sebelum dunia mulai, Yesus telah menjadi Anak Domba yang disembelih yang menghapus dosa-kejahatan dunia. Lihat Yohanes 1:9; 2 Timotius 1:9; Wahyu 5:12-14, 13:8.

Jadi, apakah Tuhan campur tangan dalam urusan manusia? Hanya di setiap detik dari setiap menit dari setiap jam dari setiap hari dari setiap milenium. Kita mungkin secara individu dan / atau korporat telah melalaikan, menghindari, dan mengelakkan intervensi itu, tapi PRA-intervensi itu masih terus-menerus berada di sekitar kita menunggu iman korporat dan individual kita untuk mengkatalisasinya menjadi manifestasi aktif.

Sekali lagi, Yesus ADALAH campur tangan Tuhan dalam urusan-urusan manusia. Dia ADALAH intervensi yang dipersonifikasikan!

  

Catatan:

Ini adalah terjemahan dari pos yang ditulis oleh Richard Murray.

You can also read the original English post on facebook: “Does God Intervene in Human Affairs?”


Tuesday, May 12, 2015

Mengapa #Yohanes Pembaptis Sedemikian #Spesial?

St__John_the_Baptist__1“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.” Matius 11:11

Yesus memberi Yohanes pujian sini — semacam itu. Dua misteri disajikan dalam ayat yang luar biasa ini. Pertama, mengapa Yohanes Pembaptis yang terbesar dari semua orang percaya Perjanjian Lama? Ingat, Yohanes meninggal sebelum Yesus pergi ke kayu salib untuk memulai Perjanjian Baru. Dengan demikian, Yohanes adalah seorang nabi yang masih di bawah Perjanjian Lama. Bagi Yesus untuk mengatakan tidak ada yang lebih besar dari Yohanes adalah signifikan dan kita harus dengan sikap doa mempertimbangkan mengapa. Misteri kedua di sini adalah mengapa Yohanes, sebagaimana ia begitu besar, masih kurang dari yang terkecil dalam Kerajaan Sorga? Dengan kata lain, mengapa orang percaya terkecil dalam Perjanjian Baru lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis?

Mengapa Yohanes adalah orang percaya Perjanjian Lama terbesar? Nah, saya percaya itu adalah karena ia memiliki pandangan paling sedikit terdistorsi mengenai kebaikan Allah. Ajarannya sering diabaikan, namun ia berfokus pada memberikan pakaian kepada orang miskin dan makanan untuk yang lapar. Dia mengajarkan pemungut pajak untuk mengambil hanya apa yang pantas. Dia mengajar tentara untuk tidak mengintimidasi orang dan harus puas dengan upah mereka. Singkatnya, ia mengajarkan kita untuk tidak menyakiti satu sama lain (Lukas 3:11-18). Isu-isu ini, bersama dengan baptisan air, pertobatan dan persiapan hati untuk Mesias, membentuk pesannya, suatu pesan yang sepenuhnya memiliki ketiadaan dalam mempromosikan kekerasan dan amarah di kalangan manusia.

Yohanes memiliki kerendahan hati Ilahi Musa tanpa amarah Musa. Dia memiliki semangat saleh Daud tanpa kekerasan beruntun Daud. Dia memiliki kekuatan kenabian Elia tanpa kemauan memanggil api pembunuh Elia terhadap musuh-musuhnya. Yohanes tidak sempurna karena ia masih hidup oleh kebenaran sendiri daripada kebenaran karena Allah. Inilah alasan dia masih kurang dari pada yang terkecil dari semua orang percaya Perjanjian Baru, karena kita hidup oleh kebenaran Allah bukan oleh kebenaran kita sendiri di bawah hukum Taurat. Tapi “orbit” Yohanes Pembaptis di hati Allah adalah lebih erat dan lebih dekat dari pada semua orang kudus Perjanjian Lama lainnya.

Saya pikir konsep “orbit” menjelaskan secara mengagumkan berbagai posisi orang-orang kudus Perjanjian Lama di alam semesta pewahyuan alkitabiah. Ini juga membantu kita memvisualisasikan Alkitab dengan cara yang sehat. Dalam setiap sistem tata surya, planet-planet mengorbit matahari pada sudut dan jarak tertentu. Orbit yang jauh menyebabkan planet yang beku dan lebih ramah-kematian, seperti Pluto. Orbit yang lebih dekat dan lebih intim memungkinkan untuk planet-planet yang lebih hangat dan lebih ramah-hidup, seperti bumi yang subur.

Saya memikirkan tentang orang-orang percaya Perjanjian Lama dengan cara yang sama. Seberapa dekat orbit mereka ke jantung Anak Allah? Alih-alih mengukur secara fisik seberapa dekat sebuah planet mengorbit Matahari, kita mengukur secara rohani seberapa dekat seorang kudus Perjanjian Lama mengorbit sekitar Anak Allah. Yesus memberitahukan kita dalam ayat di atas bahwa Yohanes Pembaptis mengorbit lebih dekat kepada-Nya daripada tokoh Perjanjian Lama lainnya, namun Yohanes juga mengorbit lebih jauh daripada orang percaya Perjanjian Baru manapun lainnya.

Seolah-olah orang-orang percaya Perjanjian Baru yang dipenuhi Roh, yaitu mereka yang berada dalam “kerajaan surga,” memiliki orbit seperti Bumi yang lebih dekat yang menghasilkan kehidupan yang hangat dan subur dari Allah bagi kita yang percaya. Orbit kita lebih baik, namun bukan karena usaha kita tetapi dengan cara yang lebih baik yang terungkap dalam dan oleh kehidupan Yesus Kristus. Orbit yang lebih baik ini, yang orang-orang Ibrani sebut “perjanjian yang lebih baik dengan janji-janji yang lebih baik” kita, memberikan kita akses ke wawasan-wawasan akurat, titik-titik pandang dan kesimpulan-kesimpulan tentang Tuhan yang lebih intim.

Tapi orang-orang kudus Perjanjian Lama memiliki orbit yang lebih jauh dengan persepsi, pemahaman dan pengertian tentang Tuhan yang lebih jauh. Hal ini dapat mengakibatkan teologi dan pandangan Allah yang lebih “dingin” dan “keras”. Inilah sebabnya mengapa Daud dapat mengasihi Allah, tetapi masih merasa dibenarkan dalam membunuh tidak hanya musuh-musuhnya, tetapi anak-anak dari musuh-musuhnya. Inilah sebabnya mengapa Musa dapat mengasihi Allah, tetapi masih membunuh rakyatnya sendiri dengan pedang dalam nama Tuhan dan merasa dibenarkan. Inilah sebabnya mengapa begitu banyak orang kudus Perjanjian Lama “membunuh” sebagai bagian dari perjalanan iman mereka. Inilah juga mengapa orang-orang saat ini yang masih memilih untuk tinggal di orbit Perjanjian Lama berpikir adalah secara sempurna diperbolehkan untuk membenci dan menyakiti musuh-musuh mereka dalam nama Tuhan.

Saya tidak berbicara tentang dosa di sini. Orang-orang percaya Perjanjian Lama dan Baru jatuh ke perangkap itu ketika mereka mengabaikan keselamatan mereka. Sebaliknya, saya sedang berbicara tentang apa yang orang-orang kudus Perjanjian Lama anggap sebagai bagian yang sah dari sifat Allah dan bagian yang sah dari sifat mereka sendiri —— kemarahan, kebencian, amarah, dendam dan pembunuhan. Hal-hal ini tidak berada dalam orbit intim sifat Yesus dan di mana pun hal-hal itu ada saya jamin yang sedang digunakan adalah orbit Perjanjian Lama.

Orbit Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi dan memberkati musuh kita setiap saat dan untuk mengatasi semua kejahatan dengan kebaikan, memaafkan semuanya tujuh kali tujuh puluh dan tidak pernah melakukan pembalasan dendam diri kita sendiri. Namun, orbit-orbit Perjanjian Lama secara rutin mempercayai perlakuan kekerasan terhadap musuh dan dinamika balas dendam mata-ganti-mata yang meresap ke ayat-ayat suci Perjanjian Lama.

Sebagai pengacara, saya selalu mengevaluasi keandalan pernyataan saksi mata sebagai berikut. Seberapa dekat mereka dengan apa yang mereka klain telah mereka lihat, seberapa baik mereka mengenali orang-orang yang mereka klaim telah mereka lihat, dan seberapa rinci deskripsi mereka? Jika mereka berada jauh, maka akurasi menjadi suatu pertanyaan nyata. Jika mereka tidak mengenali orang yang terlibat itu melalui penglihatan, ini lebih mengacaukan kehandalan mereka.

Terakhir, jika mereka tidak bisa melihat cukup jelas untuk mendapatkan gambaran yang tepat dari pakaian dan rincian fisik seperti ukuran, fitur wajah, warna rambut, dll, maka pernyataan mereka harus diandalkan secara sangat longgar. Itu masih bisa sangat berguna dalam membangun kasus secara keseluruhan, namun pernyataan saksi itu harus dinilai dan dirangkai ke dalam fakta-fakta yang dapat dibuktikan, dengan mengijinkan semacam tingkat distorsi manusia selagi masih memberikan kredibilitasnya.

Demikian juga, pandangan-pandangan Perjanjian Lama Allah bersifat parsial, jauh dan kurang dalam detail karakter. Bagian terbaik tentang ini adalah Keluaran 33:18-23. Di sini, Musa meminta Tuhan untuk menunjukkan kebaikan-Nya yang mulia. Allah menyembunyikan Musa dalam celah batu dan memberitahunya ia hanya bisa melihat “kebaikan” Allah dari belakang dan pada suatu jarak. Musa kemudian melihat kebaikan Tuhan dari belakang setelah Dia lewat. Sungguh suatu bagian ayat yang secara mengagumkan aneh untuk menunjukkan bahwa manusia yang terbaik Perjanjian Lama pada zamannya itu tidak bisa mencapai orbit yang diperlukan untuk melihat kebaikan Allah dari depan.

Intinya adalah bahwa orang-orang percaya Perjanjian Baru sungguh-sungguh memiliki pandangan yang lebih baik, orbit yang lebih baik, sudut pandang yang lebih dapat diandalkan ke dalam PANDANGAN FRONTAL SEPENUHNYA AKAN KEBAIKAN TUHAN. Inilah sebabnya mengapa orbit Yohanes Pembaptis lebih jauh dari siapapun yang berada dalam kerajaan Perjanjian Baru dari surga. Dia belum menerima pandangan frontal yang tersedia hanya setelah Yesus bangkit dari antara orang mati dan mencurahkan Roh-Nya pada hari Pentakosta untuk hidup di dalam semua orang percaya.

Yohanes, Musa dan semua orang percaya Perjanjian Lama lainnya sudah pasti SEKARANG memiliki pandangan frontal penuh akan Yesus, tetapi mereka tidak memilikinya pada saat pengalaman alkitabiah mereka dicatat. Untuk alasan ini, pernyataan kesaksian mereka harus disesuaikan oleh kita melalui pimpinan Roh Kudus dengan melihat sudut pandang mereka yang parsial, jauh dan terbatas. Tuhan tidak ingin kita pergi ke belakang untuk melihat sesuatu dari orbit mereka yang lebih dingin, keras dan terpencil. Dia ingin orbit kita menyala-nyala panas dengan kebaikan dan kasih Tuhan Perjanjian Baru!

look-to-god12Tuhan ingin kita merangkul orbit kita yang lebih baik dan kemudian menggunakannya untuk merenovasi dinginnya Perjanjian Lama ke dalam kehangatan Perjanjian Baru. Orbit Daud mungkin sedikit lebih dekat daripada Musa. Orbit Yohanes Pembaptis mungkin sedikit lebih dekat daripada Daud. Tapi keintiman orbit Yesus melebihi mereka semua dengan jarak tahun cahaya. Setelah kita memperhitungkan distorsi orbit ini, kita akan melihat kebenaran luar biasa bahwa setiap orang suci Perjanjian Lama memainkan peran penting dalam warisan rohani kita. Seperti batu loncatan, kita semua melompat dari orbit ke orbit melalui semua orang kudus Perjanjian Lama, semakin dekat dan dekat kepada kedatangan Yesus dalam Perjanjian Baru.

Yohanes Pembaptis adalah batu loncatan terakhir. Yohanes tidak memiliki gambaran sempurna mengenai Mesias yang akan datang, dan dalam beberapa hal ia melihat samar-samar dan mungkin diwarnai dengan semacam pengharapan murka masa depan yang berlebihan. Tapi dia juga tahu semua orang memerlukan pertobatan dan pengampunan, dan bahwa Allah menyediakan “Anak Domba yang akan menghapus dosa dunia.” Yohanes 1:29. Bukan dosa orang-orang Yahudi saja, tetapi DUNIA! Itu pergi jauh melampaui orbit Perjanjian Lama manapun yang sebelumnya. Dan untuk kebanggaan kekalnya, ia mengenali Mesias ketika ia melihat-Nya. YOHANES MENGENALI YESUS SEBAGAI KRISTUS (MESIAS)! Yohanes mengetahui terlebih dahulu apa yang harus dicari dalam Mesias. Dia tahu Yesus akan memiliki meterai Roh Kudus yang turun dan menetap pada-Nya (Yohanes 1:32-33).

Meterai persetujuan Roh Kudus hampir sepenuhnya terlupakan pada hari ini. Namun, Yohanes tahu bahwa hanya pewartaan mutlak Roh Kudus yang bisa mengantarkan Kristus. Dia juga tahu bahwa Yesus datang untuk membaptis KITA dengan Roh Kudus dan api (Lukas 3:16). Tidak ada orang lain manapun yang melihat kedatangan ITU. Yohanes adalah semua mengenai Roh Kudus, baik sebagai meterai Yesus maupun meterai kita. YOHANES MENGAKUI ROH KUDUS!

Yohanes begitu rendah hati, ia bahkan mendorong murid-muridnya sendiri untuk meninggalkan dia untuk mengikuti Yesus. Ia tidak mengakui kehormatan atau titel untuk dirinya sendiri, dengan menyebut dirinya hanya sebagai “suara yang berseru-seru di padang gurun.” Dalam satu zaman ketika orang menerjang untuk memperoleh titel-titel kehormatan seperti merpati-merpati terhadap remah-remah roti, adalah menyegarkan untuk melihat seorang manusia membiarkan hadiahnya berbicara sendiri. Dia menolak kehormatan manusia, sebaliknya mencari kehormatan Allah saja. Dan dia mendapatkannya.

Apa pesan batu loncatan terakhir penting dari Yohanes Pembaptis? Hanya ini semata —- luruskanlah jalan KEPADA dan UNTUK Tuhan yang sedang datang sekarang. Pesan ini masih bergema saat ini. Yohanes mengatakan ia harus semakin berkurang sementara Yesus harus semakin bertambah. Atau dengan kata lain, semua orang perlu meninggalkan orbit-orbit mereka saat ini dan melompat ke orbit Yesus.

VoiceCries-1280x1024-calendarSaya tahu Yohanes, Musa dan Daud semuanya akan berbicara kepada kita sekarang dan menasihati kita untuk datang lebih dekat kepada Allah daripada yang telah mereka lakukan. Mereka akan memberitahu kita untuk MENGGUNAKAN hal-hal yang lebih baik yang telah diberikan kepada kita sehingga kita dapat sepenuhnya tahu kebaikan frontal Allah. Mereka telah setia kepada pandangan terbatas mereka, tapi sekarang mereka tahu sepenuhnya sebagaimana mereka sendiri dikenal. Mereka sendiri sudah lama melompat dari orbit Perjanjian Lama untuk melihat Tuhan muka dengan muka sekarang karena mereka tidak pernah melakukannya selama hidup mereka. Kabar baiknya adalah kita tidak harus menunggu sampai kita mati untuk melihat kebaikan frontal Allah. Kita memiliki akses penuh SEKARANG!

Catatan:

Ini adalah terjemahan dari artikel yang ditulis oleh Richard Murray.

You can also read the full original English: REFLECTION 5:  WHY WAS JOHN THE BAPTIST SO SPECIAL?


Friday, May 8, 2015

Apakah #Tuhan Benar-benar Menyuruh #Abraham #Menggorok Leher #Ishak dan Membakar #Jenazahnya?

Rembrandt_Harmensz._van_Rijn_035

“Sacrifice of Isaac” by Rembrandt

“Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”” (TB) ~ “Dan Dia berfirman, Aku bertanya kepadamu, ambillah anakmu yang satu-satunya itu, yang engkau cintai, yaitu Isaac, dan pergilah untuk dirimu ke tanah Moria, dan buatlah dia naik ke sana untuk korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Young Literal Translation) – Kejadian 22:2.

Saya ingin menjawab pertanyaan itu dengan terlebih dahulu mengajukan suatu pertanyaan. Setelah membaca bagian ayat di bawah ini, silahkan menjawab dua pertanyaan berikut:

  1. APAKAH YESUS MENGATAKAN DI BAWAH INI BAHWA DIA DATANG UNTUK MEMBAWA KEPADA KITA SUATU PEDANG FISIK HARAFIAH UNTUK MEMUSNAHKAN DAN MEMBUNUH SEMUA KELUARGA DAN TEMAN KITA YANG OLEH SIAPA KITA MUNGKIN BERADA DALAM BAHAYA MENCINTAI MEREKA LEBIH DARI PADA CINTA KITA KEPADA ALLAH?
  2. ATAU, APAKAH YESUS BERBICARA DI BAWAH INI TENTANG PEDANG SPIRITUAL YANG AKAN MENGHANCURKAN SEMUA BERHALA YANG TERKAIT DENGAN HUBUNGAN YANG KITA SECARA SALAH TELAH PRIORITASKAN MENDAHULUI CINTA KITA KEPADA ALLAH?

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10:34-38.

Saya harap ini pertanyaan yang tidak membutuhkan pemikiran. Opsi 2 di atas adalah jawaban yang jelas. Jika tidak, pembunuhan ayah, pembunuhan saudara dan pembunuhan keluarga akan merajalela. Pembunuhan akan menjadi tanda orang Kristen sejati selagi mereka pergi mengiris, memotong dan membantai orang-orang yang mereka cintai, semuanya dalam nama Tuhan.

Tidak! Tidak akan pernah! Yesus jelas berbicara secara metaforis di sini. Dia menggunakan pedang sebagai simbol pekerjaan internal Tuhan dalam hati kita. Roh Kudus MENYUNAT hati kita dengan memotong semua koneksi duniawi dan hubungan daging yang menahan kita dari mencintai Tuhan dengan segenap hati, pikiran, jiwa dan kekuatan.

Apakah Anda mengenal orang-orang yang mencintai anak-anak mereka lebih dari Tuhan, pasangan mereka lebih dari Tuhan, teman-teman mereka lebih dari Tuhan? Tentu, kita semua tahu banyak orang lain seperti itu. Selain itu, kita sendiri semua telah mengidolakan orang-orang dan hubungan tertentu lebih dari pada cinta kita kepada Allah.

Sekarang, jika ini jelas dalam bagian ayat ini bahwa Yesus tidak berbicara tentang pedang literal, mengapa tidak PERSIS sama jelasnya bahwa “korban bakaran” yang Allah bicarakan dalam Kejadian 22:2 adalah simbolis juga?

Dengan kata lain, Allah melihat bahwa Abraham berada dalam bahaya mengidolakan cintanya kepada anak tunggalnya Ishak di atas itu mengatasi dan mendahului cintanya kepada Allah. Allah mendesak Abraham untuk “secara simbolis,” BUKAN “secara harfiah,” mempersembahkan anaknya Ishak di atas altar seremonial Allah. Tapi tujuan yang lebih dalam bagi Abraham adalah untuk percaya dan melepaskan Ishak kepada Allah di atas altar hatinya.

Allah memperingatkan Abraham untuk tidak mengidolakan Ishak, melainkan untuk dengan sepenuh hati mempersembahkan-Nya KEDALAM tangan Tuhan. Kita melakukan hal yang sama hari ini ketika kita secara simbolis “meneguhkan” atau “menahbiskan” atau “memasukkan” atau “melepaskan” anak-anak kita ke dalam panggilan Tuhan.

Upacara eksternal ini mencerminkan suatu dinamika internal yang lebih besar — kita sepenuhnya mempercayai Tuhan dengan memempercayakan anak-anak kita kepada-Nya. Kita memprioritaskan iman, pengharapan dan kasih kita dalam Tuhan selagi kita menyerahkan kepada-Nya apa yang sebelumnya kita paling cintai — hubungan-hubungan keluarga dan anak-anak kita.

Singkatnya, kita menempatkan Tuhan pada tahta hati kita dengan mempercayai dan memasukkan hubungan kita dengan-Nya PERTAMA-TAMA mendahului semua orang lain dan SECARA TERBAIK di atas semua orang lain.

Inilah semua yang Allah sedang coba beritahukan kepada Abraham dalam Kejadian 22:2, dan semua yang Yesus sedang coba beritahukan kepada pendengarnya dalam Matius 10:34-38. Tuhan yang sama, pesan yang sama: CINTAILAH ALLAH PERTAMA-TAMA DAN SECARA TERBAIK MELEBIHI SEMUA HUBUNGAN DUNIAWI ANDA.

Abraham, dalam semangatnya dan tanpa Roh Kudus yang berdiam untuk membimbingnya, menafsirkan nasihat Tuhan secara hiper-harfiah. Dia melakukan “terlalu jauh” dan benar-benar akan membunuh dan membakar Ishak, berpikir bahwa Allah akan membangkitkan dia. Dan Allah pasti bisa dan mau melakukan itu.

Tapi, Tuhan tidak akan pernah mau orangtua membunuh anaknya sendiri — tidak pernah! Itu akan melanggar karakter sempurna dan sifat penuh cinta-Nya. Sebaliknya, Allah menyuruh satu malaikat “literal” menghentikan pisau “literal” Abraham. Jika Abraham mendengar suara Tuhan dengan jelas dan dengan pemahaman yang sempurna, tidak akan ada kebutuhan untuk satu malaikat darurat “stand-by” untuk menahan tangannya.

Tapi Abraham adalah orang percaya Perjanjian Lama dan belum didiami oleh Roh Kudus. Tuhan pasti menghargai semangat Abraham, tetapi Dia tidak akan membiarkan tindakan kekerasan yang mengerikan yang harus dilakukan dalam nama-Nya oleh orang yang disebut “Sahabat Allah.” Teman ilahi tidak membiarkan teman-teman duniawi memimpin ke mabuk Alkitab dengan literalisme. Malaikat ini menahan Abraham dari menabrakkan diri ke dalam kesalahan pembunuhan.

Jika Tuhan benar-benar ingin Abraham membunuh Ishak, Tuhan akan membiarkan pisau jatuh. Tuhan paling pasti telah tidak mengijinkannya, sehingga Tuhan paling pasti tidak menghendaki atau menginginkan hal itu terjadi. Jika saja Abraham memiliki Roh Kudus yang berdiam, Dia akan tahu Tuhan berbicara secara simbolis dan metaforis, sebagaimana yang Yesus lakukan dalam Matius 10:34-38.

http://ift.tt/1FTcorM

Satu pokok terakhir. Apa bagian yang Iblis mainkan dalam menyebarkan informasi yang keliru, informasi yang menyesatkan dan deformasi (pencacatan) kepada kejadian ini?

Peran Iblis dalam acara ini adalah pasti mengaktifkan semangat Abraham untuk melakukannya “terlalu jauh” dalam suatu interpretasi “hiper-literal” firman Tuhan kepadanya. Iblis selalu mengintai di dekat permukaan pikiran kita, selalu berusaha mengacaukan arti Tuhan yang lebih dalam dan lebih benar dengan menahan kita terikat dalam interpretasi harfiah dari impuls-impuls ilahi yang Dia kirim kepada kita.

Ingat, “huruf itu membunuh” (2 Korintus 3:6). Dan di sini itu hampir membunuh Ishak. Iblis menggunakannya dalam mencoba mendesak Abraham untuk secara “harfiah” menggorok leher anaknya sendiri.

Bahkan, meskipun Kejadian tidak menyebutkan Iblis, adalah penting untuk dicatat bahwa sumber-sumber Yahudi awal lainnya menyebutkannya. Yobel 17:16 benar-benar mengatributkan inisiatif untuk membunuh Ishak kepada “Pangeran Mastema,” nama terkenal untuk Iblis dalam dokumen ini, di mana ia bertindak dalam peranan jaksa penuntut.

Peran Iblis ADALAH penting dilihat di sini. Alasannya? Karena pentingnya seluruh episode ini sebagai bayangan dari penebusan Kristus di kayu salib. Anda lihat, jika kita percaya bahwa Bapa surgawi adalah pihak yang “mengiris” tenggorokan Yesus dengan mempersembahkan putra-Nya yang tunggal di kayu salib, maka kita akan menganut Teori Pembayaran Hukuman kejam yang melihat amarah dari suatu Allah yang murka sebagai pembunuh Yesus.

Tapi jika kita percaya bahwa hidup Yesus adalah TEBUSAN bagi dosa kita yang dibayar KEPADA Iblis OLEH Tuhan, maka kita akan memeluk Teori Pendamaian Kristus Pemenang, yang juga dikenal sebagai Teori Pembayaran Tebusan. Teori ini, yang merupakan pandangan dominan dari Gereja awal, melihat Setan bersama-sama dengan pemerintah dan penguasa yang memerintah dunia yang jatuh ini, sebagai pembunuh Yesus yang sebenarnya.

Kekuatan-kekuatan satanik yang telah jatuh ini mengendalikan kita kepada eksekusi Yesus secara fisik, selagi mereka sendiri mulai menyiksa, merusakkan dan menghancurkan jiwa-Nya di neraka.

Dalam pandangan ini, Yesus dengan rela meletakkan kepala mulia-Nya di atas talenan Iblis sebagai pembayaran untuk semua dosa KITA. Iblis memiliki akses hukum untuk menangkap dan mengendalikan kita karena akses yang secara sukarela telah kita berikan kepadanya. KITA dengan bebas telah memberi kepada Iblis dan kehilangan kekuasaan bumi ini yang Allah pada awalnya telah berikan kepada kita. Inilah sebabnya mengapa Paulus menyebut Iblis “ilah dunia ini” dan Yesus menyebut Iblis “penguasa dunia ini.” Iblis memang memerintah di sini karena otoritas yang telah KITA serahkan secara sukarela kepadanya. (Bacalah artikel “Kristus Pemenang”: Kisah teragung yang pernah diceritakan!)

Jadi, bacalah bagian ini dan pilihlah teori penebusan Anda dengan hati-hati. Ini pada akhirnya akan menentukan apa yang SEBENARNYA Anda pikirkan tentang sifat Allah. Anda juga akan melihat Dia apakah sebagai Bapa yang marah dan murka yang membunuh Yesus karena kebencian-Nya bagi kita, ataukah Anda akan melihat Allah sebagai pahlawan yang menyerahkan diri-Nya ke penculik kita untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri dan setan.

Intinya di sini adalah bahwa Iblislah satu-satunya pembunuh dalam kejadian Alkitab yang melibatkan Abraham dan Ishak ini. Tuhan, di sisi lain, adalah satu-satunya pahlawan. Ishak, sebagai bayangan dari Yesus yang akan datang, secara heroik mempercayakan dirinya kepada penjagaan Bapa-Nya dan bersedia mati untuk kita dalam proses agar kita bisa diselamatkan. Allah Bapa juga secara heroik mengintervensi untuk menyelamatkan jiwa Yesus dari neraka. Petrus mengkhotbahkan kepahlawanan Allah dalam bagian ayat penting di bawah:

“Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu. Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.” – Kisah Para Rasul 2:22-31

Masuk akal?

RisenHD_main  

Catatan:

Ini adalah terjemahan dari postingan yang ditulis oleh Richard Murray.

You can also read the original English note on facebook: ”DID GOD ACTUALLY TELL ABRAHAM TO SLIT ISAAC’S THROAT AND BURN HIS CORPSE IN THE FOLLOWING PASSAGE?”


“Usut TKP” #YERUSALEM: Siapa yang #Membunuh #Ananias dan #Safira?

investigateApakah Ananias dan Safira dibunuh oleh Roh Kudus sebagaimana banyak orang mengklaim (Kisah 5:1-11)? Nah, bagian itu bahkan tidak “secara harfiah” mengatakan bahwa Allahlah yang telah membunuh mereka, jadi kita harus melihat lebih dekat bagian tersiratnya untuk melakukan investigasi kejadian yang adil mengenai penyebab sebenarnya dari kematian mereka.

Petrus bertanya kepada Safira dalam bahasa Yunani literal di ayat 9, “Mengapa kalian berdua setuju untuk menekan Roh?” (Studi Kata Yunani-Inggris Perjanjian Baru, Paul R. McReynolds, Tyndall, hal. 441 (1999)). Dengan kata lain, mengapa kalian berdua mendorong pergi hadirat pelindung Allah? Implikasinya jelas kemudian bahwa Iblislah pelakunya di sini, bukan Tuhan. Iblis “memenuhi hati mereka” untuk berbohong, maka Ananias dan Safira memadamkan hadirat pelindung Allah dengan dosa mereka, lalu Iblis mengisi kekosongan dalam hati mereka dengan kutukan yang menindas, dan mereka berdua meninggal.

Terjemahan interlinear McReynolds dari 1 Korintus 10:9 menggambarkan dinamika yang sama. “Dan janganlah kita MENEKAN Tuhan, seperti TEKANAN yang telah dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular.” Terjemahan Interlinear dapat sedikit canggung untuk telinga kita, namun sering memberi kita emas pemahaman teks Kitab Suci yang lebih baik.

Apakah Anda melihat apa yang bagian Kisah Para Rasul ini sekarang jelaskan? Pengabaian dan ketidakpercayaan yang merajalela oleh Ananias dan Safira kepada Allah, dikombinasikan dengan ketakutan mereka terhadap keadaan mereka, semua bergabung untuk melakukan hal berikut. Mereka telah menekan HADIRAT pelindung KRISTUS, DAN DIHANCURKAN OLEH IBLIS. Dan bagaimana Iblis begitu saja membunuh mereka? Di bawah ini, kita akan melihat bahwa Iblis menggunakan senjata favoritnya — ketakutan dan penuduhan – untuk membunuh kedua orang menyedihkan ini.

Tapi, bagaimana kita tahu bukan Tuhan yang membunuh mereka? Karena Ibrani 2:14-15 mengatakan Iblislah yang memiliki kuasa kematian, bukan Tuhan. Yohanes 10:10 mengatakan Iblislah yang membunuh manusia, bukan Tuhan. 1 Korintus 5:5 mengatakan Iblislah yang menghancurkan daging manusia, bukan Tuhan.

Dan sebenarnya, bagian ayat itu tidak mengatakan siapa yang benar-benar membunuh mereka, tapi mereka sendiri “menyerahkan nyawa” (spirit) SETELAH mendengar kata-kata penghukuman Petrus. Mungkin saja bahwa mereka sedemikian ketakutan akan kata-kata Petrus sehingga mereka begitu saja menyerah terhadap keinginan mereka untuk hidup.

Kita semua tahu atau telah mendengar tentang orang-orang yang menyerah dalam keputusasaan akan hidup, beberapa orang secara bertahap, beberapa orang lain dalam waktu singkat. Beberapa “menyerah akan roh mereka” karena patah hati, atau penyakit atau bencana yang akan datang. Mungkin mereka begitu khawatir tentang dosa mereka karena itu adalah salah satu dari masa awal gereja, dan mereka pikir itu mungkin tidak dapat dimaafkan.

Dengan kata lain, tampaknya Annanias dan Safira terhukum sampai mati. Tapi apakah ini kehendak Tuhan? Apakah itulah yang terbaik dari Tuhan? Apakah Petrus menunjukkan kepada mereka kasih karunia yang sama yang ia sendiri telah terima ketika ia mengkhianati Tuhan tiga kali dalam semalam? Bagaimana jika seseorang dalam otoritas kerasulan, Yakobus atau Yohanes misalnya, mengatakan kepada Petrus untuk pada dasarnya “jatuh mati” di tengah kesadaran dosanya, mungkinkah ia juga telah akan menyerah akan rohnya?

Apakah Petrus mengulurkan kasih karunia Allah kepada mereka untuk TIDAK memperhitungkan dosa ini ke atas mereka, seperti yang Yesus lakukan, seperti yang martir Stefanus lakukan, atau apakah ia bahkan mencoba untuk melayani mereka kepada pertobatan, untuk menasihati mereka, untuk berdoa bagi mereka, untuk bersyafaat bagi mereka, untuk meletakkan tangan mereka agar diampuni dan disembuhkan, atau salah satu dari praktek lain yang Kitab Suci dan kemudian Gereja sarankan?

Bagaimana dengan bagian ayat ini? Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Galatia 6:1.

Mengapa, dalam nama Yesus, kesempatan untuk bertobat TIDAK ditawarkan kepada Ananias dan Safira dalam situasi ini oleh Petrus?

Matius 18:15-17 memerintahkan kita bagaimana PERTAMA-TAMA pergi secara pribadi ke salah satu orang yang tertangkap dalam suatu pelanggaran, LALU untuk pergi bersama saksi lain jika koreksi pribadi tidak diterima oleh orang itu, dan hanya SETELAH ITU untuk membawanya kepada konfrontasi secara umum jika orang tersebut tetap tidak bertobat. Dan bahkan kemudian, hukuman yang lebih buruk adalah ekskomunikasi, BUKAN pembunuhan.

Apakah Anda mengerti? Cara Allah adalah untuk menghadapi suatu dosa DENGAN tujuan restorasi dan pertobatan dari orang berdosa itu, BUKAN eksekusi cepat. Mengapakah dinamika kasih karunia ini tidak diikuti?

Apakah roh dari bagian ayat-ayat pengampunan yang baru saja dikutip di atas ini diikuti oleh Petrus? Tidak, Petrus nampak dengan cepat dan segera menuduh mereka, setelah itu ia pada dasarnya melangkah keluar begitu saja dan membiarkan Iblis mendapat mereka. Jika berbohong kepada Roh Kudus dengan menahan beberapa sumber daya kita benar-benar mengamanatkan eksekusi langsung Roh Kudus, maka berapa banyak dari kita yang masih akan berdiri? Berapa banyak dari kita bukan seharusnya sudah lama akan dieksekusi? Mungkin inti moral dari bagian ayat ini adalah lebih mengenai kurangnya kasih karunia Petrus daripada mengenai kurangnya iman Annaias dan Safira.

Petrus tidak sempurna. Dia dikenal cepat terpicu ketika datang kepada kemarahan atau frustrasi. Dia dengan cepat menggunakan pedang fisik untuk memotong telinga seorang tentara yang mendekat. Dia juga cepat menggunakan pedang verbal, seperti ketika ia mengatakan kepada Simon si tukang sihir untuk binasa di tempat itu juga bersama-sama dengan uangnya. Mungkin, demikian juga Petrus di sini cepat untuk menusukkan dorongan pembunuhan di sini kepada Ananias dan Safira.

Galatians-2.11-13Jika Paulus memiliki keberanian untuk “berterus-terang menantang” Petrus (Galatia 2:11) untuk kesalahan spiritual yang mungkin, bukankah seharusnya kita juga punya keberanian jika, tentu saja, Roh Kudus memimpin?

Tapi, bukankah ketakutan yang besar datang kepada gereja di dalam kesadaran akan kematian-kematian ini? Dapat diperdebatkan bahwa “ketakutan besar” yang datang pada gereja dalam kesadaran akan kejadian ini, dan penyembuhan orang sakit berikutnya dari bayangan Petrus, datang lebih dari orang-orang yang secara salah, secara berlebihan dan dengan takut meninggikan Petrus bukannya melalui pemberlakuan iman yang murni dalam Kristus.

Jika kita, sebagai bagian dari tubuh gereja muda dan tanpa pengalaman, melihat seorang pemimpin yang dihormati seperti Petrus muncul untuk menanamkan rasa takut sedemikian dimana orang-orang jatuh dan mati, benar-benar ketakutan dan terhukum sampai mati, maka kita juga mungkin mulai mengidolakan “bayangan” nya. Kehadiran, perkataan dan opininya mungkin menggantikan atau mengambil alih iman kita kepada Yesus. Kita mungkin mengubah Petrus menjadi seorang Paus duniawi, mencium cincinnya, menyembah bayangannya, dll. Jika orang mendapat kesembuhan yang sah dari pelayanan Petrus, itu adalah terlepas dari kemarahan Petrus, bukan karenanya.

Dan di sini ada pemikiran lain. Jika penafsiran umum itu benar bahwa Allah menyuruh Petrus mengecam Ananias dan Safira sampai mati karena menyembunyikan kebenaran dan sumber daya dari Roh Kudus, maka sejarah Gereja seharusnya penuh dengan orang-orang Kristen terkenal yang juga secara lisan menjatuhkan dan membunuh berjuta-juta orang yang telah, pada satu atau lain waktu, menahan kebenaran atau sumber daya dari Allah sejak kejadian Ananias dan Saphira. Bahkan, kita seharusnya masih melihat orang-orang secara rutin mengeksekusi sebagai bagian normal dari pertemuan-pertemuan dan disiplin Gereja.

Tapi, itu tidak terjadi.

Jadi sekali lagi, ketika Petrus muncul sedikit terlalu cepat menarik pelatuk untuk memberitahu orang-orang untuk “jatuh mati” karena pemberontakan mereka (Safira dan Simon dalam Kisah 5 dan 8), haruskah kita bersedia untuk menahan tindakannya jika hati nurani kita memaksa kita?

Apakah kita mengikuti Roh Kudus atau Petrus? Yesus atau Petrus? Jujur saja saya tidak bisa melihat Yesus berkata kepada siapa pun untuk jatuh mati di tempat. Itu bukan cara Dia bergerak. Yesus mungkin mengguncangkan kandang agamawi mereka, tetapi Dia tidak pernah mengutuk seseorang untuk mati di tempat. Ampunilah tujuh kali tujuh puluh, kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan, berkatilah musuh Anda dan berdoalah bagi mereka yang melecehkan Anda. Tidak terlihat “kutuklah mereka untuk mati atau binasa di tempat” pada daftar dalam Matius 5:38-48 itu.

the other cheekDan jangan salah paham, saya menyukai Petrus, tetapi apakah kita harus menganggap dia sempurna dalam setiap urusannya? Sudah pasti Paulus tidak.

Tak satu pun dari kita yang sudah sempurna dalam pelayanan kemurahan Allah. Setelah memberitahu Simon untuk “binasa” bersama uangnya, Simon meminta Petrus untuk berdoa baginya agar hal-hal yang Petrus katakan itu tidak terjadi padanya. Tapi, Alkitab diam, apakah Petrus memang kemudian berdoa untuknya. Saya harap dia melakukannya. Saya pasti akan menentang Petrus jika ia tidak melakukannya dalam perkara itu. Yesuslah model kita, bukan Petrus.

Dapat dimengerti bahwa Gereja yang masih bayi itu mungkin kurang dalam toleransi dan kesabaran dari pada kelompok orang percaya yang lebih matang dan berpengalaman. Saya tahu ketika saya baru saja lahir baru dan sungguh-sungguh dalam Roh, tingkat toleransi saya terhadap ketidakpercayaan orang lain itu kecil. Saya dulu pasti sama tegas dan garangnya seperti Petrus. Tapi, dengan waktu dan kedewasaan, dan setelah menderita melalui banyak kegagalan menyedihkan saya sendiri, kesabaran saya untuk kekurangan, dosa dan kegagalan orang telah meningkat secara eksponensial. Saya tidak lagi menarik pelatuk kecaman secepat saya dulu.

Paulus memiliki keberanian untuk “berterus-terang menantang” Petrus ketika Petrus salah (Galatia 2:11). Mungkin KITA harus “berterus-terang menantang” Petrus dalam bagian ayat ini juga. Tapi terlepas dari itu, ada satu hal pasti. Bukan Tuhan yang membunuh Ananias dan Safira. Iblislah yang melakukannya. Iblis pasti mengerjakan kebohongan dan kutukan yang melumpuhkan dalam hati mereka, dan mungkin dalam pengerasan hati Petrus terhadap mereka juga yang menahannya dari memberikan pelayanan kasih karunia pelindung. Tapi, Iblislah pembunuh sejati di sini dalam cara apapun Anda melihatnya.

Catatan:

Ini adalah terjemahan dari pos yang ditulis oleh Richard Murray.

You can also read the original English note on facebook: “CSI” Jerusalem: Who Murdered Ananias and Sapphira?

Dapatkanlah juga dua pengajaran audio (bahasa Inggris) gratis dari Richard yang pantas untuk didengarkan mengenai masalah Ananias dan Safira:
– Bagian pertama dimulai pada tanda 07:50 rekaman ini: http://ift.tt/1P3X9C4
– Bagian kedua dimulai segera pada rekaman ini: http://ift.tt/1P3X9C6


Wednesday, May 6, 2015

Haruskah Orang #Kristen Menggunakan #Kekerasan untuk Membela Diri?

“Apa yang akan Anda lakukan jika penyusup menyerang Anda dan keluarga Anda? Akankah Anda menggunakan kekuatan mematikan untuk melindungi mereka?”
Siapa yang tahu pasti apa yang akan mereka lakukan, sehingga pada suatu tingkatan, itu adalah hipotesis yang tidak diketahui.
“Tapi bukankah kita harus membela diri dan orang lain dari para penyerang?”
Nah, Yesus diserang oleh massa rajam beberapa kali, tetapi secara supranatural Dia hanya menyelinap lewat di tengah-tengah mereka setiap kali tanpa pernah menyerang balik. Dia juga melakukan intervensi untuk menjaga orang lain tidak dilempari batu sampai mati oleh massa pembunuhan, tetapi tanpa melakukan kekerasan sendiri. Dia mengatakan orang-orang yang hidup dengan pedang akan mati oleh pedang, sehingga sulit untuk menggunakan-Nya sebagai model positif untuk menganjurkan kekerasan.
no violence

Sukai blog ini / Like this blog:

Popular Posts