Showing posts with label kebenaran. Show all posts
Showing posts with label kebenaran. Show all posts

Sunday, December 13, 2015

Benarkah Injil ‘Hyper-Grace’ Menghasilkan Kedurhakaan?

Tanggapan Untuk Daniel Norris

ImAHyperGracePreacherV2Sebuah artikel yang memfitnah Injil Hyper-grace dan orang-orang yang mengkhotbahkannya kembali diterbitkan dalam majalah Charisma.
Dalam artikel itu, Daniel Norris mengkuatirkan pemberitaan kasih karunia tanpa disertai Hukum Taurat akan membawa orang kepada kedurhakaan yang Yesus katakan akan makin bertambah di akhir zaman (lihat Matius 24:12).
Implikasinya adalah kami, orang-orang yang mengkhotbahkan Injil Hyper-grace telah menyebabkan kasih banyak orang menjadi dingin. Bahkan ada yang menulis dan mengklaim pengajaran kami yang ‘sesat’ telah mengirim jutaan orang ke neraka (Steve Hill : The Spiritual Avalanche That Could Kill Millions).

Punch-line artikel ini adalah kita seharusnya bersukacita dalam Taurat perjanjian lama, sebagaimana Daud, untuk menyeimbangkan ‘perahu miring’ kasih karunia.

Karena saya adalah salah satu yang memberitakan ‘teologi beracun’ hyper-grace, dan karena saya sejak lama telah mengatakan bahwa Taurat BUKANLAH untuk orang percaya, ijinkan saya memberi tanggapan atas tuduhan dalam artikel tersebut, yang saya ringkas dalam 8 poin.

#1. Mengkhotbahkan kasih karunia tanpa Taurat adalah ketidakseimbangan.

Ingat Yohanes 3:16!
Tanggapan saya :
Yohanes 3:16 adalah kalimat terindah dan teragung yang pernah diutarakan dan penghujungnya berbunyi seperti ini “…supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Perhatikan tanda titik di ujung kalimat. Itu adalah tanda titik terbesar dalam sejarah tanda titik.
Tanda titik itu adalah bukti TIDAK ADA label harga yang Allah sematkan atas kasih karuniaNya.
Hidup penuh kelimpahan dan berkat yang Yesus tawarkan sudah diberikan dan dibayar di salib.
Anda tak bisa berusaha mendapatkannya, mengusahakannya atau membayarnya.
Satu-satunya yang harus anda lakukan untuk menerimanya adalah dengan percaya.

Apa kaitannya dengan Taurat? Sama sekali tak ada.
Kata ‘Hukum Taurat’ sama sekali tidak disebutkan dalam ayat tersebut, bahkan dalam satu pasal.
Jika Yesus tidak memandang perlu menyeimbangkan kasih karunia dengan Taurat, saya rasa kita juga tidak perlu.

“Kita menyanyi … “Wahai jiwaku, jangan lagi berusaha menarik kehidupan dan kelegaan dari Taurat”, karena dari Taurat datang hanya kematian bukan kehidupan, penderitaan bukan kelegaan.
Taurat hanya bisa menuduh dan menghakimi.
Kapankah para maha guru dan para pelayan Kristus yang terkenal belajar membedakan mana Taurat dan mana kasih karunia?
Banyak dari mereka yang mencampur-adukkan keduanya dan menyajikan ramuan beracun kepada orang-orang, satu ounce kasih karunia dalam satu pound Taurat, padahal 1 tetes Taurat pun sebenarnya sudah meracuni keseluruhannya.
~Charles Spurgeon, Sermon No.531 “The Warrant of Faith”. 20 September 1863
Keterangan : 1 ounce = 28.349 gram, 1 pound = 453.592 gram

#2. Taurat Allah menunjukkan pada kita seperti apa kehidupan yang benar

Tanggapan saya :
Rasul Paulus pernah bilang, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat ..” (Roma 3:20).
Melakukan Taurat dan berharap menjadi benar adalah perbuatan daging.

Tn. Norris menulis bahwa “di bawah Taurat seseorang dimampukan untuk menjadi benar”. Yang dimaksudkannya adalah kasih karunia merupakan ‘pelumas’ yang membantu dan melicinkan usaha anda mentaati Taurat dan menjadi benar.
Tapi Rasul Paulus katakan kebenaran adalah anugerah (Roma 1:17). Ketaatan anda melakukan Taurat tidak termasuk di dalamnya.

Tetapi barangsiapa meneliti HUKUM YANG SEMPURNA, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.
Yakobus 1:25 TB

Tapi ‘hukum yang sempurna’ yang dimaksudkan Yakobus bukanlah hukum Taurat perjanjian lama, karena hukum yang itu TIDAK memerdekakan orang.
Yesus sajalah yang memerdekakan orang, benar-benar merdeka.
Yesus-lah ‘hukum yang sempurna’, “Firman (yang hidup) yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” (Yakobus 1:21).

Taurat perjanjian lama adalah ibarat cermin.
Lihatlah ke dalamnya dan yang anda temukan hanyalah kesalahan, kegagalan, ketidaksempurnaan, dosa anda.
Yakobus pada dasarnya sedang mengatakan, “Berhentilah memandangi dirimu di ‘cermin Taurat’. Berhenti memandangi ketidaksempurnaanmu, dan pandanglah Yesus dan kesempunaanNya yang mahamulia.”

Kita diubahkan bukan dengan memandangi diri kita.
Kita diubahkan SAAT MEMANDANG YESUS!

Ingin lihat kehidupan yang benar?
Jangan lihat Taurat, tapi lihatlah Yesus yang adalah kebenaran kita dari Allah.

#3. Jika anda hidup di bawah kasih karunia, mengapa tidak mengundang tetangga untuk tidur dengan pasangan anda?

Tanggapan saya :
Ucapan macam ini menunjukkan ketidakmengertian terhadap kasih karunia, yang adalah satu-satunya hal yang ” … mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini(Titus 2:12 TB).

Tn.Norris bertanya-tanya apa yang bisa menghentikan orang yang percaya kasih karunia mencuri dari supermarket Walmart?
Jujur saja, tak pernah terpikir oleh saya untuk mencuri dari Walmart.
Tapi saya bisa menduga mengapa seorang yang ‘bersukacita dalam Taurat’ bisa terpikir hal itu, karena salah satu fungsi Taurat adalah merangsang hawa nafsu dosa (Roma 7:5).

Silakan hidup di bawah Taurat, itu akan membuat anda sadar dosa (sin-conscious). Anda mungkin tidak melakukan perzinahan atau berbohong atau mencuri, tapi anda akan makin memikirkan dosa-dosa itu karena Taurat akan terus-menerus melarang anda melakukannya.
Seperti yang dijelaskan Paulus di Roma 7, Taurat tidak membantu anda mengatasi dosa. Sebaliknya, Taurat membantu dosa ‘mengatasi’ anda.
Taurat menyingkapkan masalah yang anda punya sehingga anda menyadari kebutuhan anda akan Yesus.

Tidak ada ujian yang lebih baik mengenai apakah seseorang telah mengajarkan Injil keselamatan Perjanjian Baru dari pada ini : bahwa akan ada yang orang yang salah memahaminya dan salah menafsirkan pesan itu sebagai hal berikut : bahwa karena anda diselamatkan hanya oleh kasih karunia saja tidak jadi masalah apapun yang anda lakukan; anda berdosa sesuka anda.
Karena itu justru akan memperbesar kemuliaan kasih karunia.
Jika pesan Injil keselamatan yang saya sampaikan tidak sampai menimbulkan kesalahpahaman yang demikian, maka pesan yang saya sampaikan bukan Injil …
~ D. Martin Llyod-Jones

#4. Taurat adalah pembimbing kita

Menurut artikel tersebut, perjanjian yang lama dicirikan oleh ‘aturan’, sementara perjanjian yang baru dicirikan oleh ‘prinsip’. Jika anda memahami prinsip yang melatarbelakangi aturan maka anda akan ‘menghasilkan’ berkat. Jadilah seperti Daud yang merenungkan Taurat Tuhan sepanjang hari, maka anda akan diberkati.

Tanggapan saya :
Bukankah itu pesan berbasis perbuatan?
Bukankah ini menghina Yesus yang didalamNya semua berkat rohani sudah disediakan (Efesus 1:3)?
Anda tidak bisa menghasilkan apapun.
Berusaha menghasilkan buah hanya akan merusak rencana Allah dalam hidup anda, membuat anda mandul dan menderita.
Buah yang Kristus ingin hasilkan dalam hidup anda tidak dihasilkan lewat mempraktekkan aturan atau mentaatinya.
Buah itu dihasilkan secara alami saat kita ‘tinggal’ di dalam Dia.

Taurat bukanlah guru atau pembimbing kita dalam arti agar kita memahami Firman.
Taurat adalah ‘adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman’ (Galatia 3:24 TB).
Spirit of thruthYesus mengatakan Roh Kudus-lah yang akan menuntun kita kepada ‘seluruh kebenaran’ (Yohanes 16:13).
Jika Roh Kristus yang mengajarkan pada anda segala yang perlu anda tahu, apa yang tersisa untuk diajarkan oleh Taurat?

#5. Yesus menyingkapkan seperti apa Taurat yang digenapi dalam kita terlihat

Yesus menggenapi Taurat dengan mati secara brutal di salib. Orang-orang yang mengatakan bahwa kita harus mengikuti teladan Yesus tidak pernah pergi kemana Yesus pergi.
Mereka menyuruh anda untuk mati, secara metaforis.
Mereka menyuruh anda agar melakukan apa yang Yesus katakan, tapi saat tiba pada hal-hal yang berat (seperti potong tangan, cungkil mata) mereka bilang Yesus sebenarnya tidak bermaksud demikian.

Tanggapan saya :
Menurut Tullian Tchividjian, masalah gereja saat ini bukanlah kasih karunia murahan, tapi hukum Taurat murahan, yang berpikir Allah bersedia menerima apapun yang dibawah standar kebenaran Yesus yang sempurna.
Saya sepenuhnya setuju.
Yesus-lah yang membuat anda benar, kudus dan selamanya menyenangkan dan dikenan Allah.
Apapun yang anda tambahkan kepada karya Yesus yang sempurna hanya akan dikurangi darinya.

Jika kita menghargai Taurat dengan sepantasnya, kita juga akan menghargai kasih karunia.
Seperti Tullian katakan, “Penghargaan yang tinggi terhadap Taurat akan menghasilkan penghargaan yang tinggi terhadap kasih karunia. Penghargaan yang rendah terhadap Taurat hanya akan menghasilkam penghargaan yang rendah terhadap kasih karunia”.

#6. Penyingkiran Taurat dari gereja adalah hal yang memalukan.

Tanggapan saya :
Katakan itu pada gereja Galatia.
Mereka jatuh dari kasih karunia karena membiarkan bagian kecil Taurat memasuki gereja dan kembali memperbudak mereka.
Paulus katakan mereka ‘bodoh’ karena melakukan Taurat, sebab “… semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk (Galatia 3:10).
Pilihan anda mudah : mempercayai kasih karunia dan diberkati, atau mempercayai usaha anda mentaati Taurat dan berada di bawah kutuk.

Adakah tempat bagi Taurat dalam gereja?
Jika kita mengartikan gereja sebagai komunitas orang percaya, maka jawabannya adalah ‘Tidak ada’.
Seperti yang Paulus jelaskan di Roma 7, bagi orang percaya hidup di bawah Taurat sama dengan berselingkuh atau berzinah dari Yesus.

Kita bisa katakan, dengan segala hormat, Allah memberikan Taurat bukan untuk kita taati.
Dia memberikan Taurat untuk kita langgar!
Dia tahu benar kita tidak akan mampu mentaatinya.
~ Watchman Nee

#7. Pengkhotbah kasih karunia perlu menyadari lagi bahwa Taurat itu baik

Tanggapan saya :
Keluhan yang umum ditujukan kepada pengkhotbah hyper-grace adalah kami berpikir Taurat itu tidak baik.
Kami diberi cap antinomian karena kata mereka kami mengajarkan Taurat Allah itu cacat atau inferior.
Ini tuduhan berbau fitnah.

Dalam buku ‘The Hyper-Grace Gospel’ saya mengkaji isi pengajaran 40 pengkhotbah kasih karunia, dan saya menemukan tidak satupun yang tidak menghargai Taurat.
Seperti Paulus, kami beranggapan Taurat itu baik untuk tujuan Taurat diberikan, yaitu untuk menuntun orang kepada Kristus yang adalah akhir dan ‘… kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya’ (Roma 10:4).

Jika anda beristirahat dalam kasih karunia Allah, anda tidak butuh Taurat.
Jika anda aman dalam anugerah kebenaranNya, anda tak butuh Taurat.
Sebaliknya, jika anda yakin pada kebenaran anda sendiri, anda butuh Taurat (Roma 3:19)!!

#8. Kasih karunia membuat Taurat makin relevan

Tanggapan saya :
Pemikiran yang karut-marut seperti ini menunjukkan betapa besar kebingungan yang beredar dalam gereja saat ini.

Orang mengatakan, “Kita butuh kasih karunia dan Taurat. Kasih karunia menolong anda melakukan Taurat. Allah memberi kita kasih karunia supaya kita mampu mentaati Taurat.”

Sungguh suatu pengajaran yang sangat berbahaya!
Kalau anda memakan umpan ini, anda akan mengutuk apa yang Allah berkati, anda akan jatuh dari kasih karunia, dan menjadi suam seperti jemaat Laodikia (dibahas dalam serial Laodikia) dan menjadi tak punya kasih seperti jemaat Efesus (dalam artikel ‘Meninggalkan Kasihmu yang Semula’).

Artikel majalah Charisma menyuruh anda menyeimbangkan sesuatu yang tidak bisa diseimbangkan.
Itu membuat anda mencampurkan tuntutan Taurat yang membawa kematian dengan kasih karunia Allah yang memberi kehidupan.
Keduanya tidak bisa dicampur.

Saya dengan yakin mengatakan kepada semua pengkhotbah hyper-grace bahwa ajakan untuk menyeimbangkan seperti itu adalah PERCAMPURAN.
Seperti Yesus dan para penulis kitab Perjanjian Baru katakan berulang-ulang, silakan anda hidup dalam kasih karunia ATAU dalam Taurat.
Tapi anda tidak bisa hidup di bawah keduanya!
Anda tak bisa panas dan dingin pada saat yang sama.
Anda juga tak bisa hidup dalam cara lama daging sekaligus dalam cara baru Roh.
Anda tidak bisa mempercayai kasih karunia sekaligus mempercayai kemampuan anda mentaati Taurat.

Setiap pengkhotbah kasih karunia akan mendorong anda menaruh iman anda dalam Yesus dan karyaNya yang sempurna.
Jika yang tidak setuju dengan kami menyuruh anda merenungkan Taurat siang dan malam, kami dorong anda untuk merenungkan Yesus.
Dia yang sudah memulai pekerjaan indah dalam anda, maka Dia pasti akan menyelesaikan apa yang telah Dia mulai.

law-vs-grace

[Paul Ellis : “Does the Hyper-Grace Gospel Promote Lawlessness? A Response to Daniel Norris”; 9 September 2014]

Silakan check tulisan terjemahan asli dan penerjemahnya: Mona Yayaschka

 


Saturday, December 12, 2015

Pengkhotbah Taurat Terbesar Sepanjang Masa

“Perhatikan baik-baik huruf yang dicetak merah di Alkitab”. Demikian pesan yang sering diberikan kepada pengkhotbah muda. Artinya, tetap berpegang pada ucapan Yesus (yang dicetak huruf merah) dan mereka tidak akan salah.

Kedengarannya nasehat bagus. Tapi sebenarnya tidak.

Semua yang Yesus katakan adalah baik dan indah. Tapi TIDAK SEMUA yang Yesus katakan ditujukan buat anda!

Bacalah semua tulisan merah dalam Alkitab anda, maka akan anda temukan kasih karunia tak bersyarat dan hukum Taurat yang tanpa ampun.
Jika anda mencampurnya, anda akan bingung.
Solusinya BUKAN menyeimbangkan kasih karunia dan Taurat. Anda tidak akan bisa!
Tapi ‘mem-filter’-nya lewat salib.

PassionOTChrist_253PyxurzYesus hidup dalam masa transisi dua perjanjian.
Sebagai perwakilan manusia, Yesus datang untuk memenuhi setiap ketentuan perjanjian yang lama yang berdasarkan Taurat, sehingga kita bisa berhubungan dengan Allah melalui suatu perjanjian yang baru dan yang lebih baik yang disahkan dengan darahNya.

Karena perjanjian yang baru tidak bisa dimulai sebelum Dia mati, Yesus menghidupi seluruh kehidupanNya pra-salib di bawah perjanjian lama Taurat :

Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak (Galatia 4:4-5).

Yesus lahir di bawah Taurat, disunat menurut Taurat, dan dibawa ke Bait Allah sesuai Taurat.
Semua orang Yahudi yang Yesus temui juga ada di bawah Taurat.
Anda perlu camkan ini baik-baik saat anda membaca kalimat berhuruf merah itu.

HUKUM APA YANG YESUS KHOTBAHKAN?

Kepada orang-orang yang berada di bawah Taurat, Yesus mengkhotbahkan hukum Taurat Musa yang murni sesuai standar aslinya.
Saat orang-orang agamawi datang mencoba menjebakNya dengan teka-teki teologis, Yesus menjawab, “Apa perintah Musa kepada kamu?” (Markus 10:3).
Saat ada yang bertanya, “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”(Matius 22:36), Yesus menjawabnya sesuai Taurat.

Dalam pelayananNya, Yesus menghormati Taurat :

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu TURUTILAH dan LAKUKANLAH segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya (Matius 23:2-3)

Karena orang Farisi dan para ahli Taurat sering membuat Yesus marah, kita pikir Yesus menentang Taurat.
Tidak demikian.
Yesus tidak punya masalah dengan APA yang orang Farisi dan ahli Taurat ajarkan.
“Turuti dan lakukan segala yang mereka ajarkan”.

Yang bikin Yesus ‘naik pitam’ adalah KEMUNAFIKAN mereka : mereka tidak melakukan apa yang mereka ajarkan.

Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu? Namun tidak seorang pun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu (Yohanes 7:19)

MENGAPA YESUS MENGKHOTBAHKAN TAURAT?

Seperti pengkhotbah kasih karunia lainnya, Yesus menghargai Taurat dan alasan Taurat diberikan.
Taurat diberikan, ‘dengan demikian tidak seorang pun dapat memberikan alasan apa-apa lagi dan seluruh dunia dapat dituntut oleh Allah’ (Roma 3:19 BIMK).
Tujuan Taurat diberikan adalah untuk membuat manusia sadar kondisinya yang berdosa dan menyingkapkan kebutuhannya akan Juruselamat.

Sejak Sinai, orang Yahudi menghabiskan 14 abad untuk belajar apa yang Taurat ingin sampaikan pada mereka : bahwa daging tak mampu mengatasi dosa.
Tapi para Farisi dan ahli Taurat telah memagari Taurat Musa dengan tradisi dan interpretasi mereka sendiri. Dengan menghormati tradisi di atas Taurat, mereka ‘mengencerkan’ Taurat. Akibatnya ancaman dosa tidak mampu mereka kenali dan kesombongan kebenaran-diri tidak bisa dibungkam.

Jika saja Taurat dibiarkan melakukan fungsinya, orang Yahudi mungkin siap bagi Juruselamat mereka.
Setiap dari mereka pasti mengalami yang Paulus katakan di Roma 7.

15Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. 18Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. 19Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.
24Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?
(Roma 7:15, 18-19, 24)

Seandainya ahli Taurat melakukan tugas mereka dengan benar, maka seluruh Israel pasti berkumpul di luar palungan di Betlehem dengan sukacita dan bersorak :
“Dia sudah lahir. Juruselamat kita sudah lahir. Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi!!”.

Sayangnya, bukan itu yang terjadi.
Karena para pengajar Taurat tidak melaksanakan tugas mereka dengan baik, Yesus terpaksa melakukan tugas mereka dulu sebelum Dia melakukan tugasNya.
Sebelum Dia bisa menyelamatkan dunia dari dosa, Dia harus lebih dulu mengajarkan Taurat yang menunjukkan dosa dalam wujud aslinya, yaitu jelas-jelas sebagai dosa.
Sebelum Dia memberikan diriNya sebagai jawaban, Dia harus meyakinkan orang menanyakan pertanyaan yang tepat lebih dahulu :
Siapa yang akan melepaskan kita??

Jadi Yesus menjadi pengkhotbah Taurat terbesar sepanjang masa. Seperti nubuatan nabi Yesaya, Yesus menegakkan hukum (Yesaya 42).
Yesus mengangkat Taurat yang sudah diturunkan itu kembali ke standar semula yang sempurna. Sehingga manusia tidak punya alasan apa-apa lagi. Tidak bisa berkelit lagi.
Anda ingin tahu apa yang Allah minta? Bacalah Khotbah di Bukit, di dalamnya Yesus mengatakan Allah menginginkan kesempurnaan, tidak kurang.

BAGAIMANA YESUS MENGKHOTBAHKAN TAURAT?

Mengkhotbahkan tulisan huruf merah tanpa lensa salib ibarat meminum air apapun yang anda temukan di laundry.
Jika anda tak hati-hati –jika anda gagal membedakan mana kata-kata kasih karuniaNya yang memberikan kehidupan dan mana kata-kataNya yang menurut Taurat– anda bisa mengalami bencana.

Gak percaya?
Contoh :

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
(Matius 6:14-15)

Ini adalah salah satu ayat yang paling sering di-salah-kutip dari Alkitab, yang adalah bagian dari hukum Taurat. Ini bukan kabar baik.
Ayat ini sungguh bikin kita bergidik karena pengampunan Allah atas diri kita tergantung pada pengampunan kita pada orang lain, padahal kita bukanlah pemaaf atau pemberi ampunan yang baik.

Orang lain menjahati anda berulangkali, bagaimana anda bisa benar-benar mengampuni mereka?
Bagaimana kalau anda lupa memaafkan 1 kesalahan?
Bagaimana dengan orang-orang yang disiksa, dianiaya atau diperkosa?
Apa yang akan anda katakan pada seorang bocah yang secara seksual sudah dilecehkan?
“Kamu harus ampuni om itu, kalau tidak nanti kamu tidak diampuni Tuhan lho..”.
Bagaimana anda bisa mengampuni orang yang tak terampuni?
Tidak bisa.
Berarti anda dalam masalah.
Taurat akan menghakimi anda sebagai seorang yang tidak mau mengampuni.
Sekarang baru anda paham anda butuh kasih karunia.

Setiap kali anda membaca pernyataan bersyarat dari Yesus, anda harus menerjemahkannya sebagai Taurat.

Contoh lain,
Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni (Lukas 6:37).

Nasehat yang bagus. Tapi itu hukum Taurat.
Untuk menghindari sesuatu (penghakiman), anda harus melakukan sesuatu (jangan menghakimi).
Ada syarat.

Dan setiap kali anda membaca Yesus memberikan ancaman, anda harus menafsirkannya sebagai hukum Taurat juga.

Contoh lain lagi,
Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum (Matius 5:22)

Itu bukan kabar baik. Itu kabar buruk bagi setiap orang yang punya saudara.

HUKUM TAURAT BUKAN UNTUK ANDA!

Yesus datang untuk menyingkapkan kasih karunia tapi orang yang merasa benar tidak mampu menerima kasih karunia itu. Mereka tidak bisa melihat kebutuhan mereka.
Yang mereka butuhkan adalah Taurat dan Yesus memberikannya dalam dosis penuh.

Tujuan Yesus yang lebih besar adalah memberikan kita hidupNya dan kebenaranNya. Jadi Dia juga menceritakan tentang gembala yang mencari domba yang hilang.
Lalu Dia naik ke salib menggenapi Taurat mewakili kita sehingga Dia mengakhiri Taurat bagi setiap orang yang percaya (Roma 10:4)

Yesus datang membebaskan yang tertawan dan memberi penglihatan kepada yang buta.
Taurat tak membebaskan siapapun.
Tapi membuat anda menyadari kebutuhan anda akan Dia, Sang Pembebas anda.

Christ the Redeemer

Yesus menghadapi orang Farisi mengenai perempuan yang berzinah – “The Passion Of The Christ”

 

[Paul Ellis : “The Greatest Law Preacher”; 14 January 2012]

Silakan check tulisan terjemahan asli dan penerjemahnya: Mona Yayaschka


Sunday, December 6, 2015

Apakah #Iblis adalah ‘tangan kotor’ #Allah? (#Ayub bagian 2)

hqdefaultKitab Ayub adalah kitab yang berisi salah satu kisah paling memukau dalam Alkitab, tapi kita telah keliru membacanya dengan dua cara.
Pertama, kita menyanjung Ayub sebagai seorang pahlawan iman. Kedua, kita berpikir iblis adalah ‘anjing gembala’ Allah untuk melakukan ‘pekerjaan kotor’Nya.

Ide gila ini muncul dari ayat berikut :
Lalu bertanyalah Tuhan kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”
Lalu jawab Iblis kepada Tuhan : “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.”
Maka firman Tuhan kepada Iblis: “Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.” Kemudian pergilah Iblis dari hadapan Tuhan .
(Ayub 1:8-12)

Penafsiran tradisional atas ayat ini adalah Tuhan Allah membuat Ayub jadi sasaran dengan melambai-lambaikan dia di depan iblis, seperti seorang polisi melambai-lambaikan kaus tersangka di depan hidung anjing pelacak.
“Kau mencium bau Ayub? Kau mencium kesalehannya dan betapa dia membenci kejahatan?”
“Grrrr.. Grrrr..”
“Ayo, sana, serang dia. Robek-robek hidupnya!”
Betapa mengerikan gambaran macam ini!

Penafsiran semacam ini tidak membedakan mana Allah, mana iblis. Memang iblis yang melakukan, tapi Allah adalah kolaborator. Allah mengijinkan. Dia ‘membiarkan’ itu terjadi.

Syukurlah, ada juga versi terjemahan yang ‘beda’. Sekarang mari kita baca ayat tadi dalam Green’s Literal Translation of the Holy Bible (LITV) :
Dan Yehova berkata kepada Iblis, “Engkau sedang memperhatikan hambaKu Ayub ya? Apakah karena tak seorangpun seperti dia di bumi, seorang yang jujur dan benar, yang takut kepada Tuhan dan menjauhi kejahatan?” (Ayub 1:8, terjemahan LITV)
Dengan kata lain, “Iblis, mengapa engkau memburu Ayub? Apa karena ia orang jujur? Atau karena dia tidak tumbang karena rencana jahatmu?”

Lihat?
Allah tidak menjebak Ayub.
Allah sedang memberi tahu iblis bahwa Ia mengawasi iblis karena Ia tahu rencana iblis.

Iblis memang sedang memburu Ayub. Dia bukan cuma ingin menyakiti Ayub, dia ingin ‘memperalat’ Allah untuk melakukannya!
Dengar apa yang dia katakan,
“Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.”(Ayub 1:11)
Kelancangan yang luar biasa dari sang perencana kejahatan!
Berani sekali!

Pertama, si pendakwa ingin memanipulasi Allah.
“Ayub takut padaMu hanya karena Engkau membuat pagar di sekelilingnya dan memberkati dia” (ayat 9-10).

Lalu dia menantang Allah untuk menghajar Ayub.
Tentu Allah tidak termakan trik iblis, tapi ayat 12 menunjukkan sepertinya begitu,
“Baik, kalau begitu, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; … (Ayub 1:12)
Pembacaan sekilas akan membuat kita berpikir Allah sudah terjebak dalam permainan iblis dengan memberinya ijin untuk memburu Ayub.
Benarkah?

Mari kita baca lagi ayat itu dalam versi LITV :
Dan Yehova berkata kepada iblis, “Segala kepunyaannya memang ada dalam  tanganmu. Hanya, jangan jamah dirinya.” Lalu iblis pergi dari hadapan Yehova.
Allah TIDAK SEDANG memberi ijin kepada iblis.
Allah sedang MENYATAKAN suatu fakta.
Ayub memang SUDAH di bawah jempol iblis, siap untuk ‘dipites’.
Mengapa Allah mengatakan demikian?
Karena ini :
Kita tahu bahwa kita berasal dari Allah, tapi seluruh dunia berada di bawah kendali si jahat (1 Yohanes 5:19)

Sebagaimana dijelaskan oleh Tom Tompkins dalam bukunya ‘Understanding the Book of Job’, Allah memberikan kendali atas bumi kepada manusia.
Langit itu langit kepunyaan Tuhan, dan bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia (Mazmur 115:16)
… tapi di Eden, manusia menyerahkan kuasa/kendali itu kepada iblis.
Jadi saat Allah katakan, “Segala kepunyaannya dalam tanganmu”, Allah sedang menyatakan suatu fakta pahit dan menyakitkan yang nantinya membuat Yesus mengorbankan hidupNya.

Kesimpulannya, ada 4 dusta yang muncul dari kesalahpahaman membaca Ayub pasal 1 :

#1. Iblis membutuhkan ijin untuk menyerang kita

Faktanya : Iblis tidak sedang minta ijin akan memburu Ayub karena dia tidak butuh.
Di Eden, manusia yang membuka pintu bagi dosa dan menuai konsekuensinya sejak itu.

Kabar baiknya adalah sekarang tidak lagi.
Dengan kasih karunia Allah, iblis akan lari jika kita melawan dia (Yakobus 4:7).
Jangan seperti Ayub. Jangan biarkan si pencuri itu menjarah rumah anda.
Jadilah seperti Daud yang menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan, Allahnya. Dan melawan! (1 Samuel 30:6).

#2. Allah memanfaatkan iblis sebagai ‘anjing gembala’ untuk menjaga domba tetap dalam barisan.

Ya ampun!
Omong kosong!
Apakah persamaan antara kebenaran dan kedurhakaan? Bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?(2 Korintus 6:14)

#3. Allah memberikan sakit-penyakit dan penderitaan untuk mengasah karakter kita

Tujuan iblis adalah memanipulasi Allah untuk melukai Ayub, sesuatu yang tidak akan pernah Allah lakukan.
Sekalipun Ayub berpikir Allah-lah yang berada di balik kehilangannya, Allah mengirim Elihu untuk meluruskan kekeliruan Ayub.
Elihu adalah gambaran Yesus yang “,… berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.”(Kisah Para Rasul 10:38)

Yesus tidak memberikan penyakit, Ia mengambilnya dari kita.

#4. Allah mengijinkan sakit-penyakit dan penderitaan untuk menyakiti kita

Allah TIDAK BEKERJA bagi iblis. Jika Allah memberi ijin kepada iblis untuk mencuri dari anda, dia tak akan disebut pencuri.
Adam pertama kehilangan kendali atas bumi, tapi Adam terakhir merebut kembali apa yang iblis curi.

Di dalam Kristus, anda ditakdirkan untuk berkuasa dalam hidup ibarat seorang raja (Roma 5:17).
Tapi anda tak akan pernah berkuasa dalam hidup jika anda menyimak dusta iblis di atas dan lebih mengikuti Ayub ketimbang Kristus.

Romans_5-17Kasih karunia dan damai sejahtera bagi anda semua!

(Tunggulah kelanjutannya besok!)

[Paul Ellis : “Is Satan God’s Sheepdog?”; 28 October 2015]

Silakan check tulisan terjemahan asli dan penerjemahnya: Mona Yayaschka


Saturday, December 5, 2015

10 Fakta yang jarang diketahui orang mengenai #Ayub (bagian 1)

Banyak orang menganggap Ayub sebagai orang hebat, seorang pemenang iman.
Ayub, sebagaimana anda ingat, kehilangan segalanya (keluarga, kekayaan dan kesehatan), lalu duduk di atas tumpukan abu menggaruki kulitnya yang borokan dengan pecahan beling, lantas melakukan ‘debat teologi’ dengan 3 orang ‘lulusan seminari’.

never said sickness1

“Tuhan mengijinkan penyakit ini terjadi” – http://ift.tt/1HMmihS

Sebagai hasil dari hidup yang sarat dengan pengalaman buruk, banyak orang merasa diteguhkan dan kemudian mempercayai dusta ini :
• Allah memberi dan mengambil hal-hal baik seperti anak-anak kita, kesehatan atau pekerjaan kita
• Allah menggunakan rasa sakit dan penyakit untuk menghukum atau mendisiplin kita
• Allah membuat saya mengalami saat sulit untuk mengajar saya kerendahan hati
• Allah memperalat setan sebagai ‘anjing penjaga’ untuk menjaga domba-domba tetap di kawanan.

Saya ingin menyodorkan perspektif yang berbeda.
Kitab Ayub bukan mengenai seorang hebat, tapi seorang yang bercacat. Ayub yang diceritakan di kitab Ayub bukanlah seorang ‘hamba Tuhan’ seperti yang dipikirkan banyak orang. Tapi seorang yang percaya tahyul dan penuh ketakutan yang mengeluarkan kata-kata yang bukan main bodohnya.
Kisah Ayub bukanlah kisah kemenangan iman manusia, tapi kebesaran kasih karunia Allah kepada manusia yang hancur-hancuran.

“Tapi Ayub adalah orang benar”.
Sebenarnya, Ayub adalah seorang yang penuh kebenaran-diri, yang sejatinya bukanlah seorang percaya, sebagaimana akan kita lihat nanti.
Saya tidak menjelek-jelekkan Ayub, tapi saat kita sampai di akhir seri ini, anda akan takjub pada beberapa hal luar biasa yang Allah sampaikan mengenai pria tak sempurna ini.
Tapi sebelum kita sampai pada hal tersebut, ada baiknya kita mengerti siapa Ayub.

Berikut adalah 10 fakta yang jarang diketahui mengenai Ayub :

1. Ayub adalah orang yang percaya takhyul

Seperti halnya orang agamawi lain, Ayub percaya pada karma.
Ayub memegang prinsip ‘tabur-tuai’. Jika anak-anaknya berpesta berhari-hari, dia akan membawa persembahan.

Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa (Ayub 1:5).

Debet dan kredit.
Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.

2. Ayub sadar-dosa

Bukan sadar akan dosa pribadinya, karena Ayub adalah orang baik yang selalu membersihkan hidupnya dari dosa.
Tapi dia memperlakukan dosa seperti ‘kryptonite’ (lihat Ayub 31:11-12).

Ayub sangat takut terhadap dosa dan memikirkannya terus menerus (lihat Ayub 31).

3. Ayub penuh ketakutan

Ayub selalu merasa tak aman dan terikat oleh rasa takut. Ayub mungkin adalah klien terbaik seorang agen asuransi karena ia memiliki ketakutan yang besar pada celaka (Ayub 31:23).

Saat hal buruk terjadi, ia berkata, “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” (Ayub 3:25)

4. Ayub mengasihani diri sendiri

Bacalah kitab Ayub dan anda akan mendapat kesan kuat ‘Celakalah aku’.
Walaupun ia memang sedang mengalami keadaan tidak baik, tapi dia sangat terfokus pada ‘celaka’nya itu dan mengeluh. Bahkan sampai ke titik merengek.
Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku.” (Ayub 10:1)

5. Ayub membiarkan kepahitan berakar dalam hatinya

Kepahitan adalah ‘pembunuh kasih karunia’, tapi Ayub membiarkan rumput liar iblis menyemak di taman hatinya.
Oleh sebab itu aku pun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, aku akan mengeluhkan kepahitan jiwaku (Ayub 7:11, terjemahan NKJV)

6. Ayub orang yang penuh kebenaran-diri

Keyakinan Ayub bukan pada Tuhan tapi kepada perilaku baiknya sendiri.
Berapa besar kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu (Ayub 13:23)

Seperti orang Farisi yang geram, Ayub melambung dalam perasaan bahwa dirinya benar karena perbuatannya yang tak ada cela.
Biarlah aku ditimbang di atas neraca yang teliti, maka Allah akan mengetahui, bahwa aku tidak bersalah (Ayub 31:6)

Sikap percaya pada diri sendiri membuat Ayub menegakkan mentalitas korban.
Ketahuilah, aku menyiapkan perkaraku, aku yakin, bahwa aku benar. Siapa mau bersengketa dengan aku? (Ayub 13:18-19)

Perasaan benar-diri Ayub bahkan sedemikian kuat hingga bisa membungkam 3 orang yang juga penuh kebenaran-diri yang datang menghibur dia.
Maka ketiga orang itu menghentikan sanggahan mereka terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya benar (Ayub 32:1)

7. Ayub pikir Allah tidak peduli

Bila aku berseru, Ia menjawab; aku tidak dapat percaya, bahwa Ia sudi mendengarkan suaraku;(Ayub 9:16)
Rasa mengasihani diri Ayub membuat pandangannya terhadap Allah terkotori.
Seperti juga orang-orang yang sedang melalui saat-saat sulit, Ayub mengira Allah memusuhi dia.
Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu?(Ayub 13:24)

8. Ayub menyalahkan Allah atas masalahnya

Seringkali dianggap Ayub tidak pernah menyalahkan Allah (yang adalah kesalahpahaman dari Ayub 1:22, yang akan dijelaskan di artikel berikutnya).
Ayub tak ragu menunjuk kepada Allah yang “… tidak memberi keadilan kepadaku, dan demi Yang Mahakuasa, yang memahitkan hatiku” (Ayub 27:2)

Angin ribut-lah yang menyebabkan ke 10 anaknya mati, dan perampok dari suku asing-lah yang merampasi ternaknya, tapi dia melimpahkan kehilangan itu kepada Allah (yang katanya) memberi dan mengambil (Ayub 1:21).

Ayub kemudian berulang-ulang mengatakan Allah-lah yang menyebabkan kehilangan dan masalah yang dia derita (lihat Ayub 2:10, 6:4).

Karena perilakunya yang baik, Ayub tak bisa menerima ketidakadilan ‘ilahi’ ini.
Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku? (Ayub 7:20)

Allah bekerja dengan cara yang misterius, pikir Ayub.
Dialah yang meremukkan aku dalam angin ribut, yang memperbanyak lukaku tanpa alasan (Ayub 9:17)

9. Ayub pikir Allah ingin membunuh Dia

Aku tidak bersalah! … yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya (Ayub 9:21-22)
Engkau menjadi kejam terhadap aku, Engkau memusuhi aku dengan kekuatan tangan-Mu. Ya, aku tahu: Engkau membawa aku kepada maut, … (Ayub 30:21, 23)

10. Ayub putus asa dan berharap dia mati saja

Ayub membenci hidupnya.
Aku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja (Ayub 7:16)
maka di manakah harapanku? Siapakah yang melihat adanya harapan bagiku?(Ayub 17:15)

Orang yang disebut ‘pahlawan iman’ ini kepengen mati.
sehingga aku lebih suka dicekik dan mati dari pada menanggung kesusahanku (Ayub 7:15)
Ayub tak punya iman kepada Allah yang memulihkan dan menyembuhkan, malah berkata, “… aku mengharapkan dunia orang mati sebagai rumahku, … ” (Ayub 17:13)

Banyak orang menghormati Ayub sebagai ‘raksasa iman’ yang terkenal karena kesabarannya yang luar biasa.
Tetapi Ayub tidak terdaftar di Ibrani 11, di antara para pahlawan iman. Karena satu-satunya kebenaran yang ditunjukkannya adalah kebenaran-diri sendiri yang memuakkan.

Tetaplah bersama saya karena kita akan melihat bahwa kasih karunia Allah adalah bagi orang-orang tak sempurna seperti Ayub ini.
Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur (Mazmur 113:7).

psalm.113.7.scripturePhoto_lgSebagaimana akan kita lihat nanti, hidup Ayub mengalami titik balik.
Sebelum bertemu dengan Allah, Ayub adalah seorang perengek yang secara keliru menuduh Allah sebagai penyebab masalah yang dialaminya.
Tapi sesudah ia mengenal Allah, Ayub menjadi orang yang ‘baru’, orang yang melihat Allah itu benar dan adil.

Ini kisah yang mengagumkan dan anda tak akan ingin melewatkannya (tunggulah kelanjutannya besok)!

[Paul Ellis : “Ten Little Known Fact about Job”; 22 October 2015]

Silakan check tulisan terjemahan asli dan penerjemahnya: Mona Yayaschka


Saturday, August 29, 2015

Level 1 Pelaj. 3 – Kebenaran Oleh Kasih Karunia

By Don Krow

(Silakan free-download / unduh Bahan ini dalam bentuk doc pada tautan di akhir artikel ini!)

Hari ini kita akan membahas subjek kebenaran oleh kasih karunia. Roma 3:21-23 mengatakan, “Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah (NKJV: kebenaran Allah yang terpisah/ terlepas dari hukum Taurat) telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, (Rom 3:21-23, penekanan dan penjelasan terjemahan ditambahkan).

rom-3-21-23-all'Perhatikanlah bahwa ayat ini mengatakan, “kebenaran Allah yang terpisah/ terlepas dari hukum Taurat telah dinyatakan (diwujudkan).” Saya pernah menanyakan seorang pria, “Apa yang Anda pikir harus Anda lakukan untuk masuk surga?” Dia menjawab bahwa ia harus menjaga Sepuluh Perintah Allah, setia kepada istrinya, menjalani hidup moral, ditambah sejumlah hal-hal lainnya. Saya berkata, “Tahukah Anda apa yang harus Anda lakukan untuk masuk surga, untuk berada di hadirat Allah atau kerajaan-Nya? Anda harus memiliki suatu kebenaran yang sama dengan kebenaran Allah.” Dia berkata, “Maaf ya? Tidak ada seorangpun yang bisa memiliki kebenaran yang sama dengan Allah. Hanya satu orang memiliki kebenaran tersebut, dan itu adalah Yesus Kristus!” Saya berkata, “Anda punya pokok pemikiran itu! Itu persis benar! Tak satu pun dari kita yang di dalam diri kita sendiri pernah benar-benar melakukan Hukum Taurat atau perintah-perintah itu dengan sempurna, secara lahiriah atau batiniah; tapi kita membutuhkan suatu kebenaran yang sama dengan kebenaran Allah agar bisa diterima di hadapan-Nya.”

Itulah apa yang dikatakan dalam ayat 21-22, Tetapi sekarang, kebenaran Allah yang terpisah/ terlepas dari hukum Taurat telah dinyatakan yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya... Jenis kebenaran yang Allah tawarkan kepada Anda dan saya adalah suatu kebenaran “melalui iman di dalam Yesus Kristus,” dan itu tersedia bagi semua dan kepada semua orang yang percaya. Ada dua jenis kebenaran – kebenaran manusia dan kebenaran Allah. Kebenaran manusia adalah perilaku seseorang dan amal yang terbaik yang mereka lakukan, tapi itu tidak bisa membuat Anda diterima di hadapan Allah. Anda membutuhkan suatu kebenaran yang sama dengan Allah, dan Dia sedang menawarkannya kepada Anda – kebenaran Allah yang terlepas dari hukum Taurat.

Dalam bahasa Yunani, tidak ada tanda baca yang tertentu, yang berarti bahwa teks ini benar-benar mengatakan Allah menawarkan kebenaran-Nya sendiri yang tanpa hukum Taurat. Suatu kebenaran menurut hukum Taurat adalah suatu kebenaran karena melakukan, menghasilkan dan memperoleh suatu pencapaian agar dapat diterima di hadapan Allah. Semua agama-agama dunia saat ini memikirkan apa yang harus Anda lakukan, hasilkan dan capai agar Allah menerima Anda. Kata “Injil” berarti “kabar baik,” dan kabar baik dari Injil adalah bahwa Allah menawarkan kebenaran dan penerimaan-Nya itu sendiri kepada semua orang yang mau percaya pada apa yang Yesus Kristus telah sediakan – kematian-Nya di kayu salib untuk dosa-dosa kita, memperhitungkan kepada kita kebenaran yang menyamai Hukum Taurat. Inilah kebenaran Allah yang terpisah dari Hukum Taurat tersebut, yang tanpa kita lakukan, hasilkan dan capai; dan itu datang melalui iman di dalam Yesus Kristus.

Perhatikan dalam ayat 22 bahwa itu adalah kebenaran Allah yang tersedia melalui iman dalam Yesus Kristus bagi semua dan kepada semua. Mengapa Tuhan menawarkan kebenaran-Nya kepada semua orang? Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Anda telah berdosa, saya telah berdosa, dan kita semua keluar dari standar atau kesempurnaan Allah. Karena dosa kita, hal terbesar yang kita butuhkan adalah penerimaan, hubungan yang benar dan kebenaran di hadapan Allah … dan Allah telah menawarkan ini bukan melalui perbuatan hukum Taurat melainkan melalui iman di dalam Yesus Kristus. Kebenaran Allah tidak datang melalui pekerjaan Anda, upaya Anda, penghasilan Anda, atau usaha Anda untuk mencapainya; itu datang melalui iman, ketergantungan, dan kebergantungan kepada Tuhan Yesus Kristus.

Bagaimana Abraham (nenek moyang Yahudi) diselamatkan? Alkitab mengatakan ia mempercayai Tuhan – percaya akan janji yang Allah berikan kepadanya – dan kemudian kebenaran itu diperhitungkan terhadapnya. Fakta bahwa Abraham dibenarkan di hadapan Allah oleh imannya adalah bukan dikarenakan dia sendiri saja. Kita membaca dalam Roma 3:21-22, bahwa manusia dibenarkan karena iman dalam Yesus Kristus. Alkitab mengatakan bahwa karena pembayaran Kristus di kayu salib ketika Dia mencurahkan darahNya untuk dosa kita, kebenaran (kelayakan di hadapan Tuhan) akan diperhitungkan kepada setiap orang dengan hanya percaya pada Kristus saja.

Roma 5:17 mengatakan, “Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus” (penekanan saya). Allah menawarkan kepada Anda suatu hadiah kebenaran, suatu hadiah untuk layak berdiri di hadapan-Nya. Suatu hadiah memang mempunyai suatu biaya tetapi tidak terhadap orang yang menerima itu. Jika Anda memberi saya hadiah dan meminta saya membayar untuknya, itu tidak akan menjadi hadiah, tetapi itu adalah sesuatu yang harganya Andalah yang bayar. Allah membuat kebenaran tersedia untuk Anda dan saya sebagai hadiah, dan hadiah kebenaran, pembebasan, dan kelayakan berdiri di hadapan Allah ini datang melalui iman dalam Yesus Kristus.

Roman 5 17 garden♡ ✞ ♡

Pertanyaan Pemuridan

  1. Bacalah Titus 3:5. Apakah kebenaran yang kita butuhkan adalah kebenaran yang kita dapat hasilkan?
  2. Bacalah 2 Korintus 5:21. Apa jenis kebenaran yang kita butuhkan?
  3. Bacalah Roma 3:22. Bagaimana cara kita menerima kebenaran ini?
  4. Bacalah Filipi 3:9. Apakah kebenaran Hukum Taurat itu?
  5. Bacalah Galatia 2:21. Bagaimana kita bisa menggagalkan kasih karunia Allah?
  6. Bacalah Roma 5:17. Kebenaran Allah itu diterima sebagai apa?

*⁂*
Ayat Kitab Suci untuk Digunakan dengan Pertanyaan

Titus 3: 5 – Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus”

2 Korintus 5:21 – “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh (AV: dibuat menjadi kebenaran) Allah.

Roma 3:22 – “yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.”

Filipi 3: 9 – “dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.”

Galatia 2:21 – “Aku tidak menolak (AV: menggagalkan) kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.”

Roma 5:17 – “Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus”

♔ ✞ ♕

Nantikanlah serial pelajarannya setiap Sabtu!

Pelajaran ini adalah bagian dari 48 Pelajaran Dasar Kekristenan – Penginjilan Pemuridan Lengkap | Christ of Grace

Free Download / Unduh Bahan: Pemuridan – Level 1 Pelajaran 3

Catatan: Oleh kasih karunia ini tidak untuk diperjualbelikan, hanya karena dan bagi Kristus. Jika Anda membutuhkan Kunci Jawaban, silakan Kontak saya di sini


Saturday, August 22, 2015

Level 1 Pelaj. 2 – Keselamatan oleh Kasih Karunia

(Silakan free-download / unduh Bahan ini dalam bentuk doc pada tautan di akhir artikel ini!)

PhariseeYesus berkali-kali menggunakan perumpamaan, kisah-kisah yang menggambarkan kebenaran-kebenaran rohani. Lukas 18:9-14 dimulai, “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:”. Yesus menargetkan audiens tertentu: mereka yang percaya bahwa mereka benar dan secara otomatis menghina dan memandang rendah orang lain. Ia mengatakan perumpamaan ini kepada orang-orang yang mengandalkan diri dalam hal-hal yang mereka lakukan. Kita akan menyebut mereka orang-orang dengan kebenaran diri sendiri, apa yang Yesus bicarakan ketika Dia berkata mereka memandang rendah orang lain dengan mengatakan, “Saya lebih baik dari Anda!”

Dalam ayat 10, Yesus berkata, “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.” Kita akan mengatakan dalam bahasa modern bahwa mereka pergi ke gereja untuk berdoa, dan salah satunya adalah seorang Farisi. Seorang Farisi adalah orang yang sangat religius. Kata itu sebenarnya berarti “yang dipisahkan,” seseorang yang sedemikian religius dalam arti mereka akan berkata, “Jangan menajiskan saya! Jangan terlalu dekat dengan saya. Saya tidak seperti orang-orang lain! Saya lebih baik dari setiap orang lain!”

Orang lain yang Yesus sebutkan adalah seorang pemungut cukai. Para pemungut cukai memungut pajak dan dikenal sangat jahat, orang-orang berdosa yang menipu dan menggelapkan uang. Mereka mengumpulkan pajak dengan cara apapun yang mereka bisa, menimbun banyak uang di saku mereka dan memberikan sebagian kepada pemerintah Romawi, sehingga mereka tidak disukai oleh rekan-rekan mereka.

Cerita itu berlanjut dalam ayat 11, Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; Saya ingin Anda memperhatikan itu. Kepada siapakah ia berdoa? Dia sebenarnya berdoa kepada dirinya sendiri meskipun ia mengatakan “Allah” dan menggunakan kata-kata yang tepat. Allah tidak mengakui doanya, dan kita akan lihat nanti mengapa demikian. Perhatikan bahwa ia berdoa, “Tuhan, saya bersyukur karena saya tidak seperti orang lain.” Farisi ini, orang yang agamawi ini berkata, “Saya tidak seperti orang lain. Saya tidak berdosa. Saya bukan seorang pemeras, bukan orang yang tidak adil, bukan orang yang berzinah, dan saya tidak seperti pemungut cukai ini yang datang kesini untuk berdoa.” Anda lihat, ia membenci dan memandang rendah orang lain karena dia pikir dia lebih baik dari mereka.

Dalam ayat 12 orang Farisi itu berkata, “aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Dia sedang berkata, “Perhatikankah apa yang saya lakukan?” Apakah Anda tahu apa artinya berpuasa? Ini sebenarnya berarti pergi tanpa makanan. Dia juga memberikan uang kepada gereja. Dia adalah salah satu dari orang-orang yang mengatakan, “Jangan ganggu aku! Aku menjalani suatu kehidupan yang baik! Aku memberi untuk amal! Saya menyumbangkan uang ke gereja!”

Kemudian kita sampai pada si pemungut cukai dalam ayat 13: “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Perhatikanlah bahasa tubuhnya: “berdiri jauh-jauh.” Dia bahkan tidak pergi semua jalan ke dalam gereja. Dia begitu malu akan hidupnya dan hal-hal yang ia telah lakukan sehingga ia berdiri jauh-jauh dan bahkan tidak menengadah ke atas, tidak berani mengangkat matanya ke surga, melainkan ia memukul-mukul dadanya. Ketika Alkitab berbicara tentang memukul dada dalam Perjanjian Lama, seringkali mereka juga merobek pakaian mereka yang merupakan cara untuk mengatakan, “Saya menyesal, Tuhan, untuk apa yang telah saya lakukan!” Ini adalah suatu tanda pertobatan, suatu hati yang menyesal dan remuk, yang Allah tidak akan pandang rendah. Pemungut pajak ini, memang dia manusia berdosa, sekarang berseru kepada Tuhan dan berdoa, “Tuhan kasihanilah aku, aku orang berdosa!”

Ayat 14 mengatakan, “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Pemungut cukai itu pulang sebagai orang yang telah dibenarkan, dinyatakan sebagai orang benar di hadapan Allah, layak berdiri dengan Allah, telah diampuni oleh Allah. Mengapa ia diampuni? Mengapa dialah yang pulang ke rumahnya sebagai orang yang berdiri benar di hadapan Allah dan bukan orang Farisi agamawi itu? Karena orang Farisi itu meninggikan dirinya dengan mengatakan “Saya lebih baik dari orang lain! Saya tidak berdosa! Saya tidak seperti orang lain,” sedangkan pemungut cukai itu tahu ia tidak layak berdiri di hadapan Allah, tidak ada yang bisa ia tawarkan kepada-Nya. Dia tadinya adalah orang yang berdosa. Alkitab mengatakan Yesus tidak datang untuk menyelamatkan orang benar melainkan orang berdosa, dan kita semua telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Pemungut pajak ini merendahkan diri dan menemukan maaf dan pengampunan.

Kita sedang membicarakan tentang keselamatan oleh kasih karunia. Kasih karunia adalah kata yang indah, dan saya akan memberikan definisi yang telah diterima mengenai apa arti kasih karunia, tapi kasih karunia berarti lebih banyak lagi. Dalam bahasa Yunani dalam mana Perjanjian Baru ditulis, kasih karunia adalah kata charis. Definisi yang diterima tentang kasih karunia adalah ini: perkenanan gratis dan bukan atas pamrih dari Allah terhadap orang-orang yang tidak layak mendapatkannya. Pemungut pajak ini tidak layak memperoleh apa-apa dari Allah, tetapi ia menemukan kebaikan Tuhan karena ia merendahkan dirinya. Ada kata lain dalam bahasa Yunani, karisma, yaitu charis dengan akhiran ma pada akhirnya. Kata ini berarti suatu manifestasi atau bentuk tertentu dari kasih karunia Allah. Pemungut cukai ini menemukan pembenaran, kelayakan untuk berdiri benar di hadapan Allah sebagai suatu hadiah.

Roma 5:17 mengatakan, Mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.” Allah menawarkan kepada anda dan saya kelayakan untuk berdiri benar di hadapan-Nya sebagai suatu hadiah dan menurut bagian ayat yang kita baca, pemungut cukai itu menemukan bahwa karunia pembenaran, anugerah kebenaran itu hanya datang melalui Yesus Kristus. Alkitab mengatakan dalam Yohanes 1:17, “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” Anugerah ini hanya bisa ditawarkan kepada satu jenis orang-orang – mereka yang merendahkan diri dan tahu bahwa mereka tidak layak berdiri di hadapan Allah, yang berseru untuk belas kasihan Allah. Orang-orang inilah yang akan menerima belas kasihan dan pengampunan Tuhan.

♡ ✞ ♡

Pertanyaan Pemuridan

1. Bacalah Lukas 18:9. Apakah suatu perumpamaan itu?

2. Bacalah Lukas 18:9. Kepada siapakah Yesus mengarahkan perumpamaan ini?

3. Bacalah Lukas 18:9 (bagian akhir dari ayat ini). Orang yang merasa dirinya benar sendiri selalu mengungkapkan semacam sikap terhadap orang lain. Menurut Lukas 18:9, sikap apakah itu?

  1. Mereka seperti orang lain.
  2. Mereka menghina orang lain atau memandang rendah orang lain.
  3. Mereka mengasihi orang lain.

4. Bacalah Lukas 18:10. Dua orang pergi untuk berdoa; dalam bahasa modern, kemana mereka pergi untuk berdoa?

5. Bacalah Lukas 18:10. Siapakah orang-orang ini?

6. Bacalah Lukas 18:11. Apa doa orang Farisi itu?

7. Bacalah Lukas 18:13. Dimanakah pemungut cukai itu berdiri?  Mengapa?

8. Bacalah Lukas 18:13. Mengapa pemungut cukai menundukkan kepalanya dan tidak melihat ke atas?

9. Bacalah Lukas 18:13. Apakah doa pemungut pajak ini?

10. Bacalah Lukas 18:14. Manakah dari kedua orang ini yang dinyatakan benar di hadapan Allah ketika dia pulang ke rumahnya?

11. Bacalah Lukas 18:14. Mengapa pemungut cukai itu yang dibenarkan dan bukan orang Farisi?

12. Bacalah Lukas 18:14. Apakah Tuhan mengampuni pemungut cukai ini?

13. Bacalah Roma 10:13. Jika Anda sekarang berlutut dan berseru kepada Allah dari hati Anda “Tuhan kasihanilah aku, orang berdosa,” akankah Allah memperlakukan Anda dengan cara yang sama yang Ia perlakukan terhadap pemungut cukai?

*⁂*

Ayat-ayat Kitab Suci untuk digunakan dengan Pertanyaan

Lukas 18:9 – “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:”

Lukas 18:10 – “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.”

Lukas 18:11 – Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;

Lukas 18:12 – “aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”

Lukas 18:13 – “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Lukas 18:14 – “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Roma 10:13 – “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.”

1 Yohanes 1:8-9 Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

 

 

♔ ✞ ♕

Nantikanlah serial pelajarannya setiap Sabtu pagi!

Free Download / Unduh Bahan: Pemuridan – Level 1 Pelajaran 2

Catatan: Oleh kasih karunia ini tidak untuk diperjualbelikan, hanya karena dan bagi Kristus. Jika Anda membutuhkan Kunci Jawaban, silakan Kontak saya di sini


Saturday, August 8, 2015

48 Pelajaran Dasar Kekristenan – Penginjilan Pemuridan Lengkap

Daftar Pelajaran Level 1 :

  1. da2Hidup Kekal
  2. Keselamatan oleh Kasih Karunia
  3. Kebenaran oleh Kasih Karunia
  4. Hubungan dengan Tuhan
  5. Sifat Allah
  6. Pertobatan
  7. Komitmen
  8. Baptisan Air
  9. Identitas dalam Kristus (Bagian 1)
  10. Identitas dalam Kristus (Bagian 2)
  11. Apa Yang Terjadi Ketika Seorang Kristen Berdosa
  12. Integritas Firman Allah
  13. Tuhan Tidak Bersalah
  14. Kuasa Kehidupan yang Dipenuhi Roh
  15. Cara Menerima Roh Kudus
  16. Manfaat Berbicara Dalam Bahasa Lidah


Daftar Pelajaran Level 2:

  1. Keberpusatan Diri Sendiri: Sumber Segala Duka
  2. Cara Merenungkan Firman Tuhan
  3. Pembaharuan Pikiran
  4. Pentingnya Gereja Kristus
  5. Pelepasan
  6. Wewenang Orang Percaya
  7. Penyembuhan ada dalam Penebusan
  8. Hambatan terhadap Penyembuhan
  9. Mengampuni Orang Lain
  10. Pernikahan (Bagian 1)
  11. Pernikahan (Bagian 2)
  12. Jenis Cinta Allah (Bagian 1)
  13. Jenis Cinta Allah (Bagian 2)
  14. Keuangan (Bagian 1)
  15. Keuangan (Bagian 2)
  16. Apa yang Harus Dilakukan Ketika Doa Anda Tampak Tidak Terjawab

 

Daftar Pelajaran Level 3:

  1. Aliran Ilahi
  2. Menggunakan Karunia Untuk Melayani
  3. Mujizat-mujizat Memuliakan Tuhan
  4. Kuasa Hubungan-hubungan yang Ilahi
  5. Penganiayaan
  6. Sang Raja dan Kerajaan-Nya
  7. Objek Iman yang Menyelamatkan
  8. Penggunaan yang Tepat akan Hukum Allah
  9. Tidak Dibawah Hukum Taurat, Tapi Dibawah Kasih Karunia
  10. Bukan Kesadaran Dosa Lagi
  11. Saya Dikasihi, Saya Indah
  12. Buah Keselamatan (Bagian 1)
  13. Buah Keselamatan (Bagian 2)
  14. Panggilan Untuk Pemuridan
  15. Cara Menggunakan Kesaksian Anda
  16. Menggunakan Karunia-karunia Setiap Orang Untuk Memuridkan

Discipleship

Nantikanlah serial pelajarannya setiap Sabtu pagi!

 


Sunday, May 24, 2015

Semua tentang Kasih Karunia Yesus (Bagian 1) – #video

Topik Video:

Bangkitlah dari keputus-asaan ke dalam pengharapan dan iman ketika Anda mendengarkan Yesus saja. Pelajarilah mengapa mendengarkan suara anugerah Yesus dan bukannya suara hukum Taurat mengangkat Anda apapun masalah atau ketakutan yang sedang Anda hadapi.

Juga lihatlah bagaimana satu-satunya cara untuk benar-benar menghormati Yesus dan menghidupi kemuliaan-Nya adalah dengan tinggal di dalam firman kasih dan anugerah-Nya saja. Hadapilah kehidupan dengan anugerah Tuhan ketika Anda hanya mendengarkan Yesus – Manusia sempurna yang tidak dapat gagal untuk Anda.

Arise from despair into hope and faith when you give ear to Jesus alone. Learn why listening only to Jesus’ voice of grace and not the voice of the law lifts you up no matter what trouble or fears you are facing.

Also, see how the only way to truly honor Jesus and live for His glory is to abide by His words of grace and love alone. Face life with God’s favor when you hear only Jesus—the perfect Man who cannot fail you.


Thursday, May 21, 2015

Apa Yang #Tuhan Tidak #Mau Lakukan Tidak #Bisa Dia Lakukan

Pada satu titik dalam karakter ilahi Tuhan, “tidak bisa” dan “tidak mau” berpadu menjadi satu hal yang sama. Ayat Kitab Suci berkata “mustahil” (Titus 1:2) bagi Allah untuk berdusta. Namun bagaimana ini bisa terjadi?

god-does-not-lie

Tuhan tidak berdusta.

Bukankah Allah memiliki kebebasan bawaan untuk berdusta jika saja Dia mau? Lagipula Dia sepenuhnya berkuasa. Tidakkah itu memberi-Nya hak, kuasa, otoritas, kemampuan untuk berdusta kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun yang Dia mau?

Bahkan kalaupun kita sedang berbincang secara hipotetis, tidak dapatkah Tuhan menceritakan suatu dusta gemuk besar jika Dia memutuskan melakukannya? Tidak! Sama sekali tidak mungkin! Tidak jika benar ayat yang mengatakan adalah MUSTAHIL bagi Allah untuk berdusta. Bagaimana bisa begini?

Nah, hanya ada satu penjelasan yang bisa diterapkan. Jika Allah tidak mau melakukan sesuatu, maka Dia tidak akan bisa. “Tidak mau” dan “tidak bisa” berarti hal yang persis sama bagi-Nya. Tuhan itu begitu dimurnikan dalam tujuan sempurna, begitu royal dalam terang cinta, dan begitu konstan dalam karakter yang konsisten, bahwa DIA “TIDAK AKAN” DAN “TIDAK BISA” MELANGGAR SIFAT-NYA SENDIRI —— TIDAK PERNAH —– TAK AKAN PERNAH!

Perbedaan ini tidak hanya bersifat semantik. Kita, sebagai manusia, semua seringkali berbohong pada berbagai tingkat, kepada diri kita sendiri, kepada orang lain, kepada Allah, melalui baik kelalaian maupun tugas, melalui melebih-lebihkan, meminimalisasi ataupun distorsi. Biarlah Allah benar dan setiap manusia pembohong. Roma 3:4.

Berlawanan dengan Allah, “tidak mau” dan “tidak bisa” KITA berarti dua hal yang sama sekali berbeda. Kita BISA berbohong di setiap saat dan tempat, dan kita memang sering MELAKUKANNYA. Kadang-kadang kita TIDAK MAU dan TIDAK berbohong pada situasi tertentu, tetapi jika ada cukup tekanan tambahan yang diterapkan, kita pasti BISA segera melakukannya.

Tapi, karakter Tuhan yang sempurna telah membuat dosa “tidak mungkin” bagi-Nya. Sifatnya telah melampaui jauh di atas dosa bahkan sebagai suatu kemungkinan hipotetis. Yesus telah membuktikan itu dengan tetap tanpa dosa di bumi, tanpa dosa selagi Dia menyiksa neraka, dan tanpa dosa ketika Dia naik ke Surga.

Kita juga akan pada akhirnya mencapai keadaan kesempurnaan tanpa dosa yang sama di mana “tidak mau” kita bergabung dengan “tidak bisa” kita. Kita “tidak akan (mau)” melakukan dosa karena kita “tidak bisa” melakukan dosa. Inilah semua tentang apa yang merupakan akhir perjalanan iman. Ini adalah karya pengudusan Roh Kudus yang Yesus katakan bertumbuh dan bertumbuh dan bertumbuh dari dalam diri kita sampai “keseluruhan” keberadaan kita telah “dikhamirkan” dengan Kerajaan Allah. Lukas 13:21.

kingdomleaven3

“Kerajaan Allah seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” (Lukas 13:21)

Dan dinamika ini tidak hanya berlaku untuk berbohong. Ini juga menjelaskan mengapa Allah tidak pernah memaksa, membunuh, melukai, menindas, menimpa atau bertindak dalam cara APAPUN yang tidak layak lainnya ke arah kita. Ini tidak ada dalam sifat-Nya saja. Dia tidak akan melakukannya karena Dia tidak bisa melakukannya. Dia tidak bisa melakukannya karena Dia tidak akan / mau melakukannya. Kata-kata itu berarti hal yang sama KARENA Allah secara sempurna berada dalam kesatuan dan dengan mulus terjalin dalam kemurnian dan kesempurnaan.

“Bagaimana Engkau bisa menjadi Mahakuasa, ya Allah, jika Engkau tidak dapat melakukan semua hal? Bagaimana Engkau dapat melakukan semua hal jika Engkau tidak dapat berdosa — jika Engkau tidak bisa berbohong, jika Engkau tidak dapat membuat yang palsu menjadi yang benar? Jika Engkau tidak dapat berbuat dosa, Engkau tidak dapat mengklaim untuk menjadi yang sama dalam melakukan segala sesuatu. Atau apakah dosa itu berasal bukan dari kekuasaan (keberdayaan), tapi dari ketidakberdayaan? Karena mereka yang melakukan dosa memiliki begitu sedikit kekuatan atas kodrat mereka sendiri sehingga mereka benar-benar mencelakakan diri mereka sendiri. Mereka bergantung pada belas kasihan dari kekuatan-kekuatan yang mereka tidak dapat lawan ….

Semakin orang memiliki kekuatan untuk berbuat dosa, semakin mereka menjadi tidak berdaya. Jadi Tuhan Allah, pada kenyataannya Engkau lebih sungguh-sungguh Maha Kuasa karena Engkau tidak dapat bertindak melalui ketidakberdayaan.” Saint Anselm, Prosologion, Bab 7.

Seperti yang Anselm katakan, Tuhan bersifat Maha Kuasa hanya dalam konteks karakter-Nya. Dia semuanya ADALAH baik, penuh kasih, heroik dan penuh belas kasihan KARENA inilah sifat inti dari cahaya dan cinta yang Yesus ungkapkan. Tapi, Dia semuanya BUKAN penuh murka, kekerasan, kejam dan kebencian dengan penuh kuasa KARENA Dia tidak bisa dan tidak akan beroperasi dalam motif dan tujuan yang beracun dan tidak layak ini.

Setelah kita memahami apa yang Allah “tidak ingin” dan “tidak bisa” dengan cara yang jelas, kita sekarang siap untuk memahami kebaikan Allah yang “bisa” dan “mau”. “Bisa” dan “mau / ingin” juga berarti hal yang persis sama bagi Allah. Tuhan SELALU bersegera “menginginkan dan melakukan” kebaikan tertinggi yang tersedia yang iman kita bisa terima.

 

Catatan:

Ini adalah terjemahan dari pos yang ditulis oleh Richard Murray.

You can also read the original English note on facebook: WHAT GOD WILL NOT DO HE CANNOT DO


Tuesday, May 12, 2015

Mengapa #Yohanes Pembaptis Sedemikian #Spesial?

St__John_the_Baptist__1“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.” Matius 11:11

Yesus memberi Yohanes pujian sini — semacam itu. Dua misteri disajikan dalam ayat yang luar biasa ini. Pertama, mengapa Yohanes Pembaptis yang terbesar dari semua orang percaya Perjanjian Lama? Ingat, Yohanes meninggal sebelum Yesus pergi ke kayu salib untuk memulai Perjanjian Baru. Dengan demikian, Yohanes adalah seorang nabi yang masih di bawah Perjanjian Lama. Bagi Yesus untuk mengatakan tidak ada yang lebih besar dari Yohanes adalah signifikan dan kita harus dengan sikap doa mempertimbangkan mengapa. Misteri kedua di sini adalah mengapa Yohanes, sebagaimana ia begitu besar, masih kurang dari yang terkecil dalam Kerajaan Sorga? Dengan kata lain, mengapa orang percaya terkecil dalam Perjanjian Baru lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis?

Mengapa Yohanes adalah orang percaya Perjanjian Lama terbesar? Nah, saya percaya itu adalah karena ia memiliki pandangan paling sedikit terdistorsi mengenai kebaikan Allah. Ajarannya sering diabaikan, namun ia berfokus pada memberikan pakaian kepada orang miskin dan makanan untuk yang lapar. Dia mengajarkan pemungut pajak untuk mengambil hanya apa yang pantas. Dia mengajar tentara untuk tidak mengintimidasi orang dan harus puas dengan upah mereka. Singkatnya, ia mengajarkan kita untuk tidak menyakiti satu sama lain (Lukas 3:11-18). Isu-isu ini, bersama dengan baptisan air, pertobatan dan persiapan hati untuk Mesias, membentuk pesannya, suatu pesan yang sepenuhnya memiliki ketiadaan dalam mempromosikan kekerasan dan amarah di kalangan manusia.

Yohanes memiliki kerendahan hati Ilahi Musa tanpa amarah Musa. Dia memiliki semangat saleh Daud tanpa kekerasan beruntun Daud. Dia memiliki kekuatan kenabian Elia tanpa kemauan memanggil api pembunuh Elia terhadap musuh-musuhnya. Yohanes tidak sempurna karena ia masih hidup oleh kebenaran sendiri daripada kebenaran karena Allah. Inilah alasan dia masih kurang dari pada yang terkecil dari semua orang percaya Perjanjian Baru, karena kita hidup oleh kebenaran Allah bukan oleh kebenaran kita sendiri di bawah hukum Taurat. Tapi “orbit” Yohanes Pembaptis di hati Allah adalah lebih erat dan lebih dekat dari pada semua orang kudus Perjanjian Lama lainnya.

Saya pikir konsep “orbit” menjelaskan secara mengagumkan berbagai posisi orang-orang kudus Perjanjian Lama di alam semesta pewahyuan alkitabiah. Ini juga membantu kita memvisualisasikan Alkitab dengan cara yang sehat. Dalam setiap sistem tata surya, planet-planet mengorbit matahari pada sudut dan jarak tertentu. Orbit yang jauh menyebabkan planet yang beku dan lebih ramah-kematian, seperti Pluto. Orbit yang lebih dekat dan lebih intim memungkinkan untuk planet-planet yang lebih hangat dan lebih ramah-hidup, seperti bumi yang subur.

Saya memikirkan tentang orang-orang percaya Perjanjian Lama dengan cara yang sama. Seberapa dekat orbit mereka ke jantung Anak Allah? Alih-alih mengukur secara fisik seberapa dekat sebuah planet mengorbit Matahari, kita mengukur secara rohani seberapa dekat seorang kudus Perjanjian Lama mengorbit sekitar Anak Allah. Yesus memberitahukan kita dalam ayat di atas bahwa Yohanes Pembaptis mengorbit lebih dekat kepada-Nya daripada tokoh Perjanjian Lama lainnya, namun Yohanes juga mengorbit lebih jauh daripada orang percaya Perjanjian Baru manapun lainnya.

Seolah-olah orang-orang percaya Perjanjian Baru yang dipenuhi Roh, yaitu mereka yang berada dalam “kerajaan surga,” memiliki orbit seperti Bumi yang lebih dekat yang menghasilkan kehidupan yang hangat dan subur dari Allah bagi kita yang percaya. Orbit kita lebih baik, namun bukan karena usaha kita tetapi dengan cara yang lebih baik yang terungkap dalam dan oleh kehidupan Yesus Kristus. Orbit yang lebih baik ini, yang orang-orang Ibrani sebut “perjanjian yang lebih baik dengan janji-janji yang lebih baik” kita, memberikan kita akses ke wawasan-wawasan akurat, titik-titik pandang dan kesimpulan-kesimpulan tentang Tuhan yang lebih intim.

Tapi orang-orang kudus Perjanjian Lama memiliki orbit yang lebih jauh dengan persepsi, pemahaman dan pengertian tentang Tuhan yang lebih jauh. Hal ini dapat mengakibatkan teologi dan pandangan Allah yang lebih “dingin” dan “keras”. Inilah sebabnya mengapa Daud dapat mengasihi Allah, tetapi masih merasa dibenarkan dalam membunuh tidak hanya musuh-musuhnya, tetapi anak-anak dari musuh-musuhnya. Inilah sebabnya mengapa Musa dapat mengasihi Allah, tetapi masih membunuh rakyatnya sendiri dengan pedang dalam nama Tuhan dan merasa dibenarkan. Inilah sebabnya mengapa begitu banyak orang kudus Perjanjian Lama “membunuh” sebagai bagian dari perjalanan iman mereka. Inilah juga mengapa orang-orang saat ini yang masih memilih untuk tinggal di orbit Perjanjian Lama berpikir adalah secara sempurna diperbolehkan untuk membenci dan menyakiti musuh-musuh mereka dalam nama Tuhan.

Saya tidak berbicara tentang dosa di sini. Orang-orang percaya Perjanjian Lama dan Baru jatuh ke perangkap itu ketika mereka mengabaikan keselamatan mereka. Sebaliknya, saya sedang berbicara tentang apa yang orang-orang kudus Perjanjian Lama anggap sebagai bagian yang sah dari sifat Allah dan bagian yang sah dari sifat mereka sendiri —— kemarahan, kebencian, amarah, dendam dan pembunuhan. Hal-hal ini tidak berada dalam orbit intim sifat Yesus dan di mana pun hal-hal itu ada saya jamin yang sedang digunakan adalah orbit Perjanjian Lama.

Orbit Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi dan memberkati musuh kita setiap saat dan untuk mengatasi semua kejahatan dengan kebaikan, memaafkan semuanya tujuh kali tujuh puluh dan tidak pernah melakukan pembalasan dendam diri kita sendiri. Namun, orbit-orbit Perjanjian Lama secara rutin mempercayai perlakuan kekerasan terhadap musuh dan dinamika balas dendam mata-ganti-mata yang meresap ke ayat-ayat suci Perjanjian Lama.

Sebagai pengacara, saya selalu mengevaluasi keandalan pernyataan saksi mata sebagai berikut. Seberapa dekat mereka dengan apa yang mereka klain telah mereka lihat, seberapa baik mereka mengenali orang-orang yang mereka klaim telah mereka lihat, dan seberapa rinci deskripsi mereka? Jika mereka berada jauh, maka akurasi menjadi suatu pertanyaan nyata. Jika mereka tidak mengenali orang yang terlibat itu melalui penglihatan, ini lebih mengacaukan kehandalan mereka.

Terakhir, jika mereka tidak bisa melihat cukup jelas untuk mendapatkan gambaran yang tepat dari pakaian dan rincian fisik seperti ukuran, fitur wajah, warna rambut, dll, maka pernyataan mereka harus diandalkan secara sangat longgar. Itu masih bisa sangat berguna dalam membangun kasus secara keseluruhan, namun pernyataan saksi itu harus dinilai dan dirangkai ke dalam fakta-fakta yang dapat dibuktikan, dengan mengijinkan semacam tingkat distorsi manusia selagi masih memberikan kredibilitasnya.

Demikian juga, pandangan-pandangan Perjanjian Lama Allah bersifat parsial, jauh dan kurang dalam detail karakter. Bagian terbaik tentang ini adalah Keluaran 33:18-23. Di sini, Musa meminta Tuhan untuk menunjukkan kebaikan-Nya yang mulia. Allah menyembunyikan Musa dalam celah batu dan memberitahunya ia hanya bisa melihat “kebaikan” Allah dari belakang dan pada suatu jarak. Musa kemudian melihat kebaikan Tuhan dari belakang setelah Dia lewat. Sungguh suatu bagian ayat yang secara mengagumkan aneh untuk menunjukkan bahwa manusia yang terbaik Perjanjian Lama pada zamannya itu tidak bisa mencapai orbit yang diperlukan untuk melihat kebaikan Allah dari depan.

Intinya adalah bahwa orang-orang percaya Perjanjian Baru sungguh-sungguh memiliki pandangan yang lebih baik, orbit yang lebih baik, sudut pandang yang lebih dapat diandalkan ke dalam PANDANGAN FRONTAL SEPENUHNYA AKAN KEBAIKAN TUHAN. Inilah sebabnya mengapa orbit Yohanes Pembaptis lebih jauh dari siapapun yang berada dalam kerajaan Perjanjian Baru dari surga. Dia belum menerima pandangan frontal yang tersedia hanya setelah Yesus bangkit dari antara orang mati dan mencurahkan Roh-Nya pada hari Pentakosta untuk hidup di dalam semua orang percaya.

Yohanes, Musa dan semua orang percaya Perjanjian Lama lainnya sudah pasti SEKARANG memiliki pandangan frontal penuh akan Yesus, tetapi mereka tidak memilikinya pada saat pengalaman alkitabiah mereka dicatat. Untuk alasan ini, pernyataan kesaksian mereka harus disesuaikan oleh kita melalui pimpinan Roh Kudus dengan melihat sudut pandang mereka yang parsial, jauh dan terbatas. Tuhan tidak ingin kita pergi ke belakang untuk melihat sesuatu dari orbit mereka yang lebih dingin, keras dan terpencil. Dia ingin orbit kita menyala-nyala panas dengan kebaikan dan kasih Tuhan Perjanjian Baru!

look-to-god12Tuhan ingin kita merangkul orbit kita yang lebih baik dan kemudian menggunakannya untuk merenovasi dinginnya Perjanjian Lama ke dalam kehangatan Perjanjian Baru. Orbit Daud mungkin sedikit lebih dekat daripada Musa. Orbit Yohanes Pembaptis mungkin sedikit lebih dekat daripada Daud. Tapi keintiman orbit Yesus melebihi mereka semua dengan jarak tahun cahaya. Setelah kita memperhitungkan distorsi orbit ini, kita akan melihat kebenaran luar biasa bahwa setiap orang suci Perjanjian Lama memainkan peran penting dalam warisan rohani kita. Seperti batu loncatan, kita semua melompat dari orbit ke orbit melalui semua orang kudus Perjanjian Lama, semakin dekat dan dekat kepada kedatangan Yesus dalam Perjanjian Baru.

Yohanes Pembaptis adalah batu loncatan terakhir. Yohanes tidak memiliki gambaran sempurna mengenai Mesias yang akan datang, dan dalam beberapa hal ia melihat samar-samar dan mungkin diwarnai dengan semacam pengharapan murka masa depan yang berlebihan. Tapi dia juga tahu semua orang memerlukan pertobatan dan pengampunan, dan bahwa Allah menyediakan “Anak Domba yang akan menghapus dosa dunia.” Yohanes 1:29. Bukan dosa orang-orang Yahudi saja, tetapi DUNIA! Itu pergi jauh melampaui orbit Perjanjian Lama manapun yang sebelumnya. Dan untuk kebanggaan kekalnya, ia mengenali Mesias ketika ia melihat-Nya. YOHANES MENGENALI YESUS SEBAGAI KRISTUS (MESIAS)! Yohanes mengetahui terlebih dahulu apa yang harus dicari dalam Mesias. Dia tahu Yesus akan memiliki meterai Roh Kudus yang turun dan menetap pada-Nya (Yohanes 1:32-33).

Meterai persetujuan Roh Kudus hampir sepenuhnya terlupakan pada hari ini. Namun, Yohanes tahu bahwa hanya pewartaan mutlak Roh Kudus yang bisa mengantarkan Kristus. Dia juga tahu bahwa Yesus datang untuk membaptis KITA dengan Roh Kudus dan api (Lukas 3:16). Tidak ada orang lain manapun yang melihat kedatangan ITU. Yohanes adalah semua mengenai Roh Kudus, baik sebagai meterai Yesus maupun meterai kita. YOHANES MENGAKUI ROH KUDUS!

Yohanes begitu rendah hati, ia bahkan mendorong murid-muridnya sendiri untuk meninggalkan dia untuk mengikuti Yesus. Ia tidak mengakui kehormatan atau titel untuk dirinya sendiri, dengan menyebut dirinya hanya sebagai “suara yang berseru-seru di padang gurun.” Dalam satu zaman ketika orang menerjang untuk memperoleh titel-titel kehormatan seperti merpati-merpati terhadap remah-remah roti, adalah menyegarkan untuk melihat seorang manusia membiarkan hadiahnya berbicara sendiri. Dia menolak kehormatan manusia, sebaliknya mencari kehormatan Allah saja. Dan dia mendapatkannya.

Apa pesan batu loncatan terakhir penting dari Yohanes Pembaptis? Hanya ini semata —- luruskanlah jalan KEPADA dan UNTUK Tuhan yang sedang datang sekarang. Pesan ini masih bergema saat ini. Yohanes mengatakan ia harus semakin berkurang sementara Yesus harus semakin bertambah. Atau dengan kata lain, semua orang perlu meninggalkan orbit-orbit mereka saat ini dan melompat ke orbit Yesus.

VoiceCries-1280x1024-calendarSaya tahu Yohanes, Musa dan Daud semuanya akan berbicara kepada kita sekarang dan menasihati kita untuk datang lebih dekat kepada Allah daripada yang telah mereka lakukan. Mereka akan memberitahu kita untuk MENGGUNAKAN hal-hal yang lebih baik yang telah diberikan kepada kita sehingga kita dapat sepenuhnya tahu kebaikan frontal Allah. Mereka telah setia kepada pandangan terbatas mereka, tapi sekarang mereka tahu sepenuhnya sebagaimana mereka sendiri dikenal. Mereka sendiri sudah lama melompat dari orbit Perjanjian Lama untuk melihat Tuhan muka dengan muka sekarang karena mereka tidak pernah melakukannya selama hidup mereka. Kabar baiknya adalah kita tidak harus menunggu sampai kita mati untuk melihat kebaikan frontal Allah. Kita memiliki akses penuh SEKARANG!

Catatan:

Ini adalah terjemahan dari artikel yang ditulis oleh Richard Murray.

You can also read the full original English: REFLECTION 5:  WHY WAS JOHN THE BAPTIST SO SPECIAL?


Saturday, May 9, 2015

#Wallpaper “Amazing #Grace” – #gratis

Silakan unduh gratis (free download) wallpaper “Amazing Grace” untuk koleksi Anda dengan mengklik gambar di bawah!

:)

Anugerah Allah mengajarkan kita untuk menyangkal “kefasikan dan keinginan-keinginan (nafsu) duniawi”, dan “hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini” [Titus 2:11-12]. Bukan hanya kekudusan, tapi kedewasaan rohani, mujizat, kemakmuran, penyembuhan dan hidup berkelimpahan semuanya adalah oleh kasih karunia Allah [Gal 3:2-5]!!

Bacalah artikel Beberapa Ciri Pemercaya Kasih Karunia dan diberkatilah lebih lagi! Anda juga bisa mengunduh lukisan ini dengan mengklik gambarnya di artikel tersebut.

amazing-graceSilakan unduh gratis gambar besarnya dengan mengklik gambar

Catatan:

Gambar-gambar besar ini diunduh dari situs lain.
Kemungkinan besar gambar aslinya memiliki copy right. Karena itu harap tidak diperjualbelikan atau dipergunakan untuk keuntungan pribadi, melainkan pakailah untuk membangun iman pribadi maupun orang lain di sekeliling Anda sebagai berkat anugerah-Nya!

Kristus Yesus memberkati Anda dalam Kasih Karunia-Nya!


Friday, May 8, 2015

Apakah #Tuhan Benar-benar Menyuruh #Abraham #Menggorok Leher #Ishak dan Membakar #Jenazahnya?

Rembrandt_Harmensz._van_Rijn_035

“Sacrifice of Isaac” by Rembrandt

“Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”” (TB) ~ “Dan Dia berfirman, Aku bertanya kepadamu, ambillah anakmu yang satu-satunya itu, yang engkau cintai, yaitu Isaac, dan pergilah untuk dirimu ke tanah Moria, dan buatlah dia naik ke sana untuk korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Young Literal Translation) – Kejadian 22:2.

Saya ingin menjawab pertanyaan itu dengan terlebih dahulu mengajukan suatu pertanyaan. Setelah membaca bagian ayat di bawah ini, silahkan menjawab dua pertanyaan berikut:

  1. APAKAH YESUS MENGATAKAN DI BAWAH INI BAHWA DIA DATANG UNTUK MEMBAWA KEPADA KITA SUATU PEDANG FISIK HARAFIAH UNTUK MEMUSNAHKAN DAN MEMBUNUH SEMUA KELUARGA DAN TEMAN KITA YANG OLEH SIAPA KITA MUNGKIN BERADA DALAM BAHAYA MENCINTAI MEREKA LEBIH DARI PADA CINTA KITA KEPADA ALLAH?
  2. ATAU, APAKAH YESUS BERBICARA DI BAWAH INI TENTANG PEDANG SPIRITUAL YANG AKAN MENGHANCURKAN SEMUA BERHALA YANG TERKAIT DENGAN HUBUNGAN YANG KITA SECARA SALAH TELAH PRIORITASKAN MENDAHULUI CINTA KITA KEPADA ALLAH?

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10:34-38.

Saya harap ini pertanyaan yang tidak membutuhkan pemikiran. Opsi 2 di atas adalah jawaban yang jelas. Jika tidak, pembunuhan ayah, pembunuhan saudara dan pembunuhan keluarga akan merajalela. Pembunuhan akan menjadi tanda orang Kristen sejati selagi mereka pergi mengiris, memotong dan membantai orang-orang yang mereka cintai, semuanya dalam nama Tuhan.

Tidak! Tidak akan pernah! Yesus jelas berbicara secara metaforis di sini. Dia menggunakan pedang sebagai simbol pekerjaan internal Tuhan dalam hati kita. Roh Kudus MENYUNAT hati kita dengan memotong semua koneksi duniawi dan hubungan daging yang menahan kita dari mencintai Tuhan dengan segenap hati, pikiran, jiwa dan kekuatan.

Apakah Anda mengenal orang-orang yang mencintai anak-anak mereka lebih dari Tuhan, pasangan mereka lebih dari Tuhan, teman-teman mereka lebih dari Tuhan? Tentu, kita semua tahu banyak orang lain seperti itu. Selain itu, kita sendiri semua telah mengidolakan orang-orang dan hubungan tertentu lebih dari pada cinta kita kepada Allah.

Sekarang, jika ini jelas dalam bagian ayat ini bahwa Yesus tidak berbicara tentang pedang literal, mengapa tidak PERSIS sama jelasnya bahwa “korban bakaran” yang Allah bicarakan dalam Kejadian 22:2 adalah simbolis juga?

Dengan kata lain, Allah melihat bahwa Abraham berada dalam bahaya mengidolakan cintanya kepada anak tunggalnya Ishak di atas itu mengatasi dan mendahului cintanya kepada Allah. Allah mendesak Abraham untuk “secara simbolis,” BUKAN “secara harfiah,” mempersembahkan anaknya Ishak di atas altar seremonial Allah. Tapi tujuan yang lebih dalam bagi Abraham adalah untuk percaya dan melepaskan Ishak kepada Allah di atas altar hatinya.

Allah memperingatkan Abraham untuk tidak mengidolakan Ishak, melainkan untuk dengan sepenuh hati mempersembahkan-Nya KEDALAM tangan Tuhan. Kita melakukan hal yang sama hari ini ketika kita secara simbolis “meneguhkan” atau “menahbiskan” atau “memasukkan” atau “melepaskan” anak-anak kita ke dalam panggilan Tuhan.

Upacara eksternal ini mencerminkan suatu dinamika internal yang lebih besar — kita sepenuhnya mempercayai Tuhan dengan memempercayakan anak-anak kita kepada-Nya. Kita memprioritaskan iman, pengharapan dan kasih kita dalam Tuhan selagi kita menyerahkan kepada-Nya apa yang sebelumnya kita paling cintai — hubungan-hubungan keluarga dan anak-anak kita.

Singkatnya, kita menempatkan Tuhan pada tahta hati kita dengan mempercayai dan memasukkan hubungan kita dengan-Nya PERTAMA-TAMA mendahului semua orang lain dan SECARA TERBAIK di atas semua orang lain.

Inilah semua yang Allah sedang coba beritahukan kepada Abraham dalam Kejadian 22:2, dan semua yang Yesus sedang coba beritahukan kepada pendengarnya dalam Matius 10:34-38. Tuhan yang sama, pesan yang sama: CINTAILAH ALLAH PERTAMA-TAMA DAN SECARA TERBAIK MELEBIHI SEMUA HUBUNGAN DUNIAWI ANDA.

Abraham, dalam semangatnya dan tanpa Roh Kudus yang berdiam untuk membimbingnya, menafsirkan nasihat Tuhan secara hiper-harfiah. Dia melakukan “terlalu jauh” dan benar-benar akan membunuh dan membakar Ishak, berpikir bahwa Allah akan membangkitkan dia. Dan Allah pasti bisa dan mau melakukan itu.

Tapi, Tuhan tidak akan pernah mau orangtua membunuh anaknya sendiri — tidak pernah! Itu akan melanggar karakter sempurna dan sifat penuh cinta-Nya. Sebaliknya, Allah menyuruh satu malaikat “literal” menghentikan pisau “literal” Abraham. Jika Abraham mendengar suara Tuhan dengan jelas dan dengan pemahaman yang sempurna, tidak akan ada kebutuhan untuk satu malaikat darurat “stand-by” untuk menahan tangannya.

Tapi Abraham adalah orang percaya Perjanjian Lama dan belum didiami oleh Roh Kudus. Tuhan pasti menghargai semangat Abraham, tetapi Dia tidak akan membiarkan tindakan kekerasan yang mengerikan yang harus dilakukan dalam nama-Nya oleh orang yang disebut “Sahabat Allah.” Teman ilahi tidak membiarkan teman-teman duniawi memimpin ke mabuk Alkitab dengan literalisme. Malaikat ini menahan Abraham dari menabrakkan diri ke dalam kesalahan pembunuhan.

Jika Tuhan benar-benar ingin Abraham membunuh Ishak, Tuhan akan membiarkan pisau jatuh. Tuhan paling pasti telah tidak mengijinkannya, sehingga Tuhan paling pasti tidak menghendaki atau menginginkan hal itu terjadi. Jika saja Abraham memiliki Roh Kudus yang berdiam, Dia akan tahu Tuhan berbicara secara simbolis dan metaforis, sebagaimana yang Yesus lakukan dalam Matius 10:34-38.

http://ift.tt/1FTcorM

Satu pokok terakhir. Apa bagian yang Iblis mainkan dalam menyebarkan informasi yang keliru, informasi yang menyesatkan dan deformasi (pencacatan) kepada kejadian ini?

Peran Iblis dalam acara ini adalah pasti mengaktifkan semangat Abraham untuk melakukannya “terlalu jauh” dalam suatu interpretasi “hiper-literal” firman Tuhan kepadanya. Iblis selalu mengintai di dekat permukaan pikiran kita, selalu berusaha mengacaukan arti Tuhan yang lebih dalam dan lebih benar dengan menahan kita terikat dalam interpretasi harfiah dari impuls-impuls ilahi yang Dia kirim kepada kita.

Ingat, “huruf itu membunuh” (2 Korintus 3:6). Dan di sini itu hampir membunuh Ishak. Iblis menggunakannya dalam mencoba mendesak Abraham untuk secara “harfiah” menggorok leher anaknya sendiri.

Bahkan, meskipun Kejadian tidak menyebutkan Iblis, adalah penting untuk dicatat bahwa sumber-sumber Yahudi awal lainnya menyebutkannya. Yobel 17:16 benar-benar mengatributkan inisiatif untuk membunuh Ishak kepada “Pangeran Mastema,” nama terkenal untuk Iblis dalam dokumen ini, di mana ia bertindak dalam peranan jaksa penuntut.

Peran Iblis ADALAH penting dilihat di sini. Alasannya? Karena pentingnya seluruh episode ini sebagai bayangan dari penebusan Kristus di kayu salib. Anda lihat, jika kita percaya bahwa Bapa surgawi adalah pihak yang “mengiris” tenggorokan Yesus dengan mempersembahkan putra-Nya yang tunggal di kayu salib, maka kita akan menganut Teori Pembayaran Hukuman kejam yang melihat amarah dari suatu Allah yang murka sebagai pembunuh Yesus.

Tapi jika kita percaya bahwa hidup Yesus adalah TEBUSAN bagi dosa kita yang dibayar KEPADA Iblis OLEH Tuhan, maka kita akan memeluk Teori Pendamaian Kristus Pemenang, yang juga dikenal sebagai Teori Pembayaran Tebusan. Teori ini, yang merupakan pandangan dominan dari Gereja awal, melihat Setan bersama-sama dengan pemerintah dan penguasa yang memerintah dunia yang jatuh ini, sebagai pembunuh Yesus yang sebenarnya.

Kekuatan-kekuatan satanik yang telah jatuh ini mengendalikan kita kepada eksekusi Yesus secara fisik, selagi mereka sendiri mulai menyiksa, merusakkan dan menghancurkan jiwa-Nya di neraka.

Dalam pandangan ini, Yesus dengan rela meletakkan kepala mulia-Nya di atas talenan Iblis sebagai pembayaran untuk semua dosa KITA. Iblis memiliki akses hukum untuk menangkap dan mengendalikan kita karena akses yang secara sukarela telah kita berikan kepadanya. KITA dengan bebas telah memberi kepada Iblis dan kehilangan kekuasaan bumi ini yang Allah pada awalnya telah berikan kepada kita. Inilah sebabnya mengapa Paulus menyebut Iblis “ilah dunia ini” dan Yesus menyebut Iblis “penguasa dunia ini.” Iblis memang memerintah di sini karena otoritas yang telah KITA serahkan secara sukarela kepadanya. (Bacalah artikel “Kristus Pemenang”: Kisah teragung yang pernah diceritakan!)

Jadi, bacalah bagian ini dan pilihlah teori penebusan Anda dengan hati-hati. Ini pada akhirnya akan menentukan apa yang SEBENARNYA Anda pikirkan tentang sifat Allah. Anda juga akan melihat Dia apakah sebagai Bapa yang marah dan murka yang membunuh Yesus karena kebencian-Nya bagi kita, ataukah Anda akan melihat Allah sebagai pahlawan yang menyerahkan diri-Nya ke penculik kita untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri dan setan.

Intinya di sini adalah bahwa Iblislah satu-satunya pembunuh dalam kejadian Alkitab yang melibatkan Abraham dan Ishak ini. Tuhan, di sisi lain, adalah satu-satunya pahlawan. Ishak, sebagai bayangan dari Yesus yang akan datang, secara heroik mempercayakan dirinya kepada penjagaan Bapa-Nya dan bersedia mati untuk kita dalam proses agar kita bisa diselamatkan. Allah Bapa juga secara heroik mengintervensi untuk menyelamatkan jiwa Yesus dari neraka. Petrus mengkhotbahkan kepahlawanan Allah dalam bagian ayat penting di bawah:

“Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu. Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.” – Kisah Para Rasul 2:22-31

Masuk akal?

RisenHD_main  

Catatan:

Ini adalah terjemahan dari postingan yang ditulis oleh Richard Murray.

You can also read the original English note on facebook: ”DID GOD ACTUALLY TELL ABRAHAM TO SLIT ISAAC’S THROAT AND BURN HIS CORPSE IN THE FOLLOWING PASSAGE?”


Sukai blog ini / Like this blog:

Popular Posts